Sejarah dan Asul Usul Suku Lembak Bengkulu

Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam Suku bangsa dimana setiap Suku memiliki kebudayaan yang berbeda pula, begitu juga halnya dengan masyarakat Bengkulu. Selanjutnya masyarakat Bengkulu ini kalau ditilik dari segi bahasanya dapat dibedakan atas beberapa etnis.

Masyarakat Lembak atau juga yang dikenal dengan Suku Lembak yang merupakan bagian dari masyarakat Bengkulu, tersebar di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara yang berbatasan dengan Kota Bengkulu, sebagian berada di Kabupaten Rejang Lebong terutama di Kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi, Kota Padang, dan juga berada didaerah Kabupaten Kepahiang seperti di Desa Suro Lembak.

Secara umum antara masyarakat Lembak tidak jauh berbeda dengan masyarakat melayu pada umumnya, namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan jika ditinjau dari segi bahasanya, antara masyarakat Lembak dengan masyarakat Bengkulu kota (pesisir) terdapat perbedaan dari segi pengucapan katanya dimana masyarakat Bengkulu kata-katanya banyak diakhiri dengan hurup ‘o’ sedangkan masyarakat Lembak banyak menggunakan hurup ‘e’.

Disamping itu dalam beberapa hal ada juga yang berbeda cukup jauh. Masyarakat Lembak seperti juga masyarakat Bengkulu umumnya adalah pemeluk Agama Islam sehingga budayanya banyak bernuansakan Islam, disamping itu masih ada pengaruh dari kebudayaan lainnya. Dari sisi adat istiadat antara masyarakat Bengkulu dan masyarakat Lembak ada terdapat kesamaan dan juga perbedaan, dimana ada hal-hal yang terdapat dalam masyarakat Bengkulu tidak terdapat dalam masyarakat Lembak begitu juga sebaliknya. Termasuk didalamnya adat dalam rangkaian upacara perkawinan dan daur hidup lainnya.

Kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat pendukung dapat berwujud sebagai komunitas Desa, kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak yang khas yang terutama terlihat oleh orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Kuntjaraningrat (1983) mengungkapkan bahwa corak khas suatu kebudayaan menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus; atau karena diantara pranata-pranatanya ada suatu pola sosial yang khusus; atau dapat juga karena warganya menganut tema budaya yang khusus.

Corak khas suatu kebudayaan yang ada pada sekumpulan masyarakat itu kita katakan suku bangsa. Untuk lebih jelas dapat dilihat seperti daerah Propinsi Bengkulu terdapat berbagai suku bangsa yang memiliki corak budaya yang khas seperti; Suku Lembak, Rejang, Serawai, Enggano, Pekal, Muko-Muko, Melayu dan lain-lain. Di masing-masing suku bangsa tersebut masyarakat pendukungnya terikat oleh kesadaranan dan identitas akan kesatuan kebudayaan.

Masing-masing suku bangsa tersebut biasanya menempati daerah kebudayaan (Culture Area) yang memiliki kebudayaan yang masing-masing mempunyai beberapa unsur yang mencolok. Ciri-ciri yang dapat dijadikan alasan untuk mengklasifikasikan tidak hanya berwujud kebudayaan fisik, seperti misalnya alat-alat berburu, bertani, senjata, bentuk ornamen perhiasan, bentuk tempat kediaman, melainkan juga kebudayaan yang lebih abstrak dari sistem sosial atau sistem budaya, seperti; unsur-unsur organisasi kebudayaan, upacara keagamaan, upacara perkawinan, cara berfikir dan sebagainya.

Suku lembak adalah suku asli di Bengkulu. Ada empat alasan yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai alasan bahwa Suku Lembak adalah suku asli di Bengkulu, yaitu:
Suku Lembak mempunyai sejarah kerajaan yaitu Kerajaan Sungai Hitam dengan rajanya Singaran Pati yang bergelar Aswanda, mempunyai wilayah yang jelas, mempunyai bahasa yang khas, dan memiliki kebudayaan baik fisik mapun non fisik berupa kesenian dan lainnya.

Baca Juga :  Cryptoland: Cryptocurrency yang Didukung Emas dan Proyek Nyata

Tulisan ini adalah terjemahan dari naskah berbahasa Melayu yang telah di tulis dan di dibukukan oleh RHM Ilyas dalam huruf Arab, kemudian diterjemahkan oleh anak beliau, RM Yacub ke dalam huruf latin. Dari tulisan ini menggambarkan bahwa Suku Lembak sudah berada di Bengkulu sekitar tahun 1400-an atau sekitar 6 abad yang lalu. Menilik dari sejarah dalam banyak karangan yang berbahasa Inggris maupun Arab Melayu, kami berkeyakinan Suku Lembak termasuk suku yang berada pada gelombang pertama mendiami dataran Bumi Bengkulu ini.

Memang ada beberapa versi yang ditulis baik oleh RM Ilyas maupun oleh Prof Dr Abdullah Siddik. Terlepas dari itu semua kami ingin mengemukakan fakta sejarah bahwa hingga saat ini secara Geografis Kota Bengkulu hampir 70% adalah wilayah marga proatin XII yang tidak bisa disangkal adalah termasuk wilayah masyarakat adat dan ulayat Suku Lembak. (Dapat juga dibaca pada tulisan tentang Tugu Thomas Parr).

Selengkapnya kami sajikan terjemahan langsung dari tulisan RHM Ilyas dalam bentuk pasal-pasal, dan anda silakan melakukan kajian dan menyimpulkan sendiri. Sejarah Masyarakat Adat Lembak Bengkulu (Diambil dari beberapa pasal Buku yang karangan oleh RHM Ilyas dalam huruf Arab, kemudian diterjemahkan oleh anak beliau, RM Yacub ke dalam huruf latin)

Pasal 14
“Bermula Tuanku Baginda Sebayam itu, ada memelihara Hulubalang 40 orang pilihan. Pada setiap hari bertukar tukar jaga dalam istana Baginda itu. Pada suatu malam Baginda keluar. Maka sembah Hulubalang yang sedang berjalan itu: “Ya Tuanku Syah Alam, ini ada seorang laki-laki baru datang pada malam ini. Dia datang dari Palembang mau menyerahkan diri kebawah duli tuanku, tetapi hamba belum tahu namanya”

“Maka orang itu sujud kepada kaki Baginda dan menuturkan segala hal iihwal kedatangannya: adapun patik ini datang dari Palembang dan nama patik SINGARAN PATI asal orang dari Lembak Beliti Tabah pingin Palembang. Pada suatu ketika patik kena fitnah, kata orang patik berbuat jahat dengan anak perempuan anak mamak patik. Patik mau dibunuh oleh mamak patik. Rasanya patik tidak dapat meloloskan diri, maka patik menikamnya terlebih dahulu, lalu ia mati . maka orang Pedusunan sepakat mengatakan patik sudah melakukan dua kesalahan. Lalu patik dihantar kepada sultan Palembang, mendapat hukuman menjadi budak raja seumur hidup. Maka patik diperintahkan menjadi Sultan Penunggu Indah Larangan. Maka patik bergelar ISWANDA”

Pasal 15
“Pada suatu hari anak Sultan yang bernama PUTERI SINARAN BULAN yaitu remaja puteri yang cantik parasnya, turun mandi di indah larangan itu. Tiba-tiba takdir Allah SWT datang, disambar oleh buaya hidung kajang besar, maka gegerlah segala isi Negeri.
Setelah orang –orang besar bermufakat berdasarkan titah Sultan, tidak bisa di tolak saya disuruh membunuh buaya itu. Karena itu kesalahan saya kurang hati-hati menjaga Indah larangan itu. Maka saya meminta untuk mengumpulkan segala senjata yang ada di Palembang. Setelah semuanya terkumpul, maka saya serakkan dengan beras sudah dikunyiti dipanggil ayam makan beras itu”

“Ada sebuah keris kecil yang sudah berkarat sejengkal panjang matanya dimakan ayam, lalu ayam itu mati. Dengan seketika itu pula keris tersebut yang saya bawa menyelam kedalam sungai Palembang. Setelah bertemu dengan Buaya itu, lalu saya tikam. Lukanya cuma sedikit, tapi Buaya itu langsung mati. Dan bangkainya langsung mengapung diatas air. Dari keris yang saya bawa menyelam itu, saya sembunyikan dibawah Indah Larangan antara air dengan darat. Kemudian saya menghadap junjungan Sultan untuk mengatakan kalau Buayanya sudah mati, tetapi keris penikamnya hilang”

Baca Juga :  Eman: Saat Ibadah Umroh Harus Selalu Berpikir Positif

“Kata Sultan, apa boleh buat asal mati Buaya itu tak apalah. Buaya itu dibelah perutnya oleh orang-orang , terdapat didalam perutnya mayat sang Puteri seperti orang tidur saja. Tidak ada yang cacat sedikitpun dari tubuhnya. Hanya sekedar jiwanya saja yang hilang dari raganya. Pada malamnya saya lari membawa keris itu menuju kehulu Palembang. Dengan maksud ingin kembali kedusun saya. Kemudian saya sadar kalau masih berada dalam kawasan Palembang pasti akan didapatkan oleh Sultan. Sebab itulah maka saya lari kebawah duli tuanku disini, minta hidup kepada tuanku.”

“Karena hamba lari dari rumah Raja, sekarang hamba kerumah Raja disini. Hamba serahkan jiwa hamba kepada Tuanku. Dari keris si Kuku Gagak penikam Buaya itu, ini hamba persembahkan untuk Tuanku. Setelah baginda mendengar segala cerita Iswanda maka bertanya: “apa kedudukanmu didusunmu? Jawab Iswanda: “kalau suku patik ialah pesirah didalam Marga Dusun Taba Pingin”

Maka tinggallah Iswanda dibawah perintah hulubalang Tuanku baginda Sebayam. Lama kelamaan banyaklah pengabdian Iswanda kepada baginda. Mana pekerjaan yang sukar- sukar tidak dapat dikerjakan oleh orang lain maka Iswandalah yang mengerjakannya. Adalah sifat Iswanda menurut adat seorang hamba dengan Tuannya bila dipanggil datang, disuruh pergi, ditegah diam. Baginda terlalu sayang padanya. Lama kelamaan maka Iswanda diangkat oleh Baginda menjadi anak. Anak satu menjadi dua anak 2 menjadi 3 sebaik seburuk dengan anak cucu Tuanku Baginda Sebayam”

“Bersumpah setia dengan seberat- beratnya. Sesekali tidak boleh lancang aniaya kedua pihak. Siapa yang mungkir janji dimakan sumpah, dikutuk bisa kawi, dikutuk Qur’an 30 juz jatuhlah murka Allah dengan seberat-beratnya, Kalau hilang sama dicari, terbenam sama diselam, selama air hanyut, selama gagak hitam tidak lapuk di hujan, tidak lekang dipanas selama-lamanya”

Pasal 16
“Setelah Iswanda diangkat menjadi anak oleh Tuanku Baginda Sebayam, maka ia diberi sebidang tanah. Yaitu antara Sungai Bengkulu dengan Sungai Hitam kehulunya hingga Air Rena Kepahyang, Kehilir Pesisir Laut. Inilah batas tanah yang diberi Tuanku baginda Sebayam kepada Iswanda yang diangkat menjadi anaknya”

Pasal 17
“Maka terdengar khabarnya kepada adik sanak Iswanda, mengatakan bahwa Iswanda sudah diangkat anak oleh raja Bengkulu. Banyaklah mereka itu datang dari Lembak Beliti mengikuti Iswanda. Apabila sudah banyak familynya, mak Iswanda suruh cincang lati di Pungguk Beriang namanya dipinggir Air Sungai Hitam. Tempat itulah mula-mula Iswanda membuat Dusun”

“Duduklah ia memerintah tanah bumi yang sudah dikasih oleh Tuanku baginda Sebayam. sebab inilah ia bernama Raja Sungai Hitam. Karena diam di pinggir Air Sungai Hitam. Apabila Iswanda sudah tetap berdusun dan memerintah, makin bertambah-tambah juga datang kaum kerabatnya. Maka bertambahlah Dusunnya. demikianlah adanya dibuat pada tahun 938 Hijrah”

Pasal 18
“Setelah Baginda Sebayam wafat, beliau diganti dengan anaknya yang bernama Baginda Senanap yang bergelar Paduka Baginda Muda. Pada masa ini data lagi seorang dari Tabah Pingin yang bernama Abdus Syukur, seorang ulama. Dia menemui Baginda Senanap, kemudian beliau disuruh menemui Iswanda, karena Abdus Syukur juga masih kerabat Iswanda. Abdus Syukur inilah yang menjadi asal nenek moyang orang Pagardin yang mula-mula menyiarkan Agama Islam di Sungai Hitam sampai ke Lembah Delapan. Abdus Syukur sering disebut dengan Tuan Tue (dimakamkan di Dusun Paku Aji)”

Baca Juga :  Kisah Raden Burniat Part 2

Pasal 19
“Kemudian datang juga orang dari Lembak Beliti, yaitu Jukuang, Jakat, Darti dan Lubuk Bisu. Mereka menemui Raja Sungai Lemau, buat minta lahan sebagai tempat tinggal. Akhirnya mereka disuruh tinggal di dipinggi Air Bengkulu sebelah kiri mudik, yang juga termasuk lahan yang diberikan kepada Iswanda. Mereka inilah yang menjadi Nenek moyang orang Marga Mentiring”

Pasal 20
“Setelah wafat Paduka Baginda Muda, maka beliau digantikan oleh anaknya yang bernama Tuanku Baginda Kembang Ayun (dimakamkan di Kembang Ayun), kemudian digantikan anaknya Tuanku Baginda Burung Binang. Saat tuan Baginda Burung Binang memerintah datang dua orang Suami Istri, Suaminnya Orang Rejang, sedang Istrinya orang Lembak. Ke datangannya juga meminta lahan, akhirnya diberikan lahan di kuala Air Palik Persembahannya adalah seekor kerbau bertali rambut, diikat di batang cekur di halaman tempat tuanku Burung Binang (Kubur Tuanku Burung Binang diseberang Ds Kederas Lama). Dia diangkat menjadi Pembarab, tetapi bukan pembarab dibawah pasirah, melainkan Pembarab dibawah raja yang sama kedudukannya dengan pasirah, serta dikurnia pula sedikit angkatan/pasukan. Jika kerja baik atau kerja buruk, boleh dia memakai alam halilipan, karena balasan persembahannya itu. Dialah asal nenek moyang orang Lubuk Tanjung”

Pasal 21
“Pada saat itu datang juga orang dari Muara Lakitan, Lembak Darat laki-laki dan perempuan dari kaum kerabat Iswanda, pada saat itu Iswanda sudah meninggal. Mereka meminta lahan kepada Raja Sungai Lemau, kemudian diberi oleh Tuanku Baginda tanah dipinggir air Bengkulu disebelah kanan mudik dan disebelah hulu hingga air Lapur. Mereka inilah menjadi nenek moyang orang Porwatin dua belas tepi air.

 

SUKU LEMBAK SAAT INI

Suku Lembak adalah Suku Asli Kota Bengkulu (Suku lain adalah Melayu Bengkulu). Masyarakat Lembak tersebar di Empat Kecamatan yang ada di Kota Bengkulu, sebagian besar tinggal.

Di Kecamatan Gading Cempaka yaitu : Kelurahan Jembatan Kecil, Panorama, Dusun Besar dan Jalan Gedang.

Di Kecamatan Selebar meliputi: Pagar Dewa, Sukarami, Pekan Sabtu, Betungan, dan Desa Kandang.

Di Kecamatan Teluk Segara meliputi: Kelurahan Sukamerindu, Desa Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Semarang, dan Surabaya.

Di Kecamatan Muara Bangkahulu meliputi: Desa Bentiring dan Pematang Gubernur dan sekitarnya.

Sebagian Besar juga tinggal diwilayah pemakaran dari kelurahan dan desa tersebut. DI Kabupaten Bengkulu Tengah, Suku Lembak tinggal hampir disemua Desa yang ada di Kecamatan Talang Empat, Karang Tinggi, Taba Penanjung dan Pondok Kelapa.

Di Rejang Lebong masyarakat Lembak banyak mendiami Padang Ulak Tanding, Kota Padang dan Sindang Kelingi. Di Kepahiyang masyarakat Lembak diperkirakan mencapai 15% dari penduduk Kabupaten tersebut.

(kisah ini dilansir dari situs : curupkami.blogspot.com)

(Aidan)