Satujuang, Bengkulu Selatan– Momentum HUT ke-80 Kemerdekaan RI menjadi hari berkabung bagi masyarakat petani Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan.
Alih-alih merayakan dengan suka cita, mereka justru menggelar upacara kemerdekaan dengan mengibarkan bendera setengah tiang.
Dalam upacara yang berlangsung di lahan perkebunan sengketa, seluruh peserta mengenakan pakaian serba hitam.
Mereka juga membentangkan bendera-bendera one piece sebagai simbol kritik sekaligus semangat perlawanan terhadap ketidakadilan yang dirasakan.
Ketua Forum Masyarakat Pino Raya (FMPR), Edi Hermanto, yang bertindak sebagai pembina upacara menyampaikan pesan penuh makna.
“Kami melaksanakan upacara ini untuk mengenang jasa para pahlawan, tapi kami belum mampu mengangkat bendera sampai ke ujung tiang karena masih memperjuangkan isi dari kemerdekaan,” ujarnya, dalam rilis yang diterima Satujuang.com, Senin (18/8/25).
Petani Pino Raya telah berkonflik dengan PT Agri Bengkulu Selatan (ABS) sejak tahun 2012. Perusahaan tersebut dituding merampas lahan kelola rakyat tanpa dasar legalitas yang jelas.
Hingga tahun 2025, nasib ratusan petani belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Menurut masyarakat, aparat dan pemerintah daerah justru lebih berpihak kepada perusahaan.
Hal itu membuat petani merasa hak-hak fundamental mereka masih jauh dari janji kemerdekaan.
Pemuda Pino Raya, Puji Hendarii Julita Sari, menyebut aksi pengibaran bendera setengah tiang adalah kritik keras untuk negara.
“Kalau pemerintah sehat, maka petani ditemui dan dipenuhi haknya. Tapi jika terus mengabaikan, berarti pemerintah zalim. Suatu saat perlawanan bisa jadi keniscayaan,” tegasnya.
Dalam rangkaian upacara, FMPR juga mengangkat anggota forum yang sempat dikriminalisasi sebagai pahlawan rakyat.
Salah satunya Silmawanto, petani yang dianggap teguh melawan intimidasi aparat dan perusahaan.
“Saya tidak akan gentar, dan akan kembali melanjutkan perjuangan,” kata Silmawanto saat menerima penghargaan sebagai pahlawan baru Pino Raya.
FMPR turut membacakan tuntutan mereka yang ditembuskan ke pemerintah daerah, ATR/BPN, DPR hingga Presiden.
Tuntutan utama adalah pelaksanaan reforma agraria sejati dan penghentian perampasan tanah oleh PT ABS.
“Bila negara terus berpihak pada korporasi dan mengabaikan penderitaan rakyat kecil, maka perlawanan adalah keniscayaan,” tegas Forum Masyarakat Pino Raya dalam pernyataan sikapnya. (Red)












Tetap semangat dan pantang menyerah.
Satu kata buat warga Pino raya
” KAWAN “