Satujuang, Jakarta – Sebuah ironi tengah terjadi di kota besar Jakarta. Program Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang seharusnya menjadi solusi pengangguran dan pemberdayaan warga justru di kabarkan di kotori praktik pungutan liar.
Beredar kabar bahwa untuk menjadi anggota PPSU, calon pekerja harus “menyetor” sejumlah uang kepada oknum di kelurahan.
Jumlahnya tidak sedikit, berkisar antara 2 hingga 2 bulan gaji. Artinya, sebelum seorang pekerja menyapu jalanan, mereka terlebih dahulu harus membayar. Mestinya program ini berpihak pada masyarakat kecil.
Bukan Sekadar Isu, Tapi Rahasia Umum
Praktik pungutan dalam seleksi PPSU bukan sekadar dugaan. Ini telah menjadi rahasia umum di berbagai wilayah Jakarta.
Fenomena ini terlihat dari banyaknya anggota baru PPSU yang berasal dari luar kelurahan, bahkan luar kecamatan. Padahal, sejak awal, program ini dicanangkan untuk memberdayakan warga setempat.
Bukti lain? Banyak tenaga PPSU baru merupakan saudara atau kerabat dari oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di kelurahan. “Jalur belakang” seakan menjadi norma, sementara warga yang benar-benar membutuhkan pekerjaan harus gigit jari.
Ketidakadilan yang Mengakar
Persoalan ini menabrak prinsip dasar dalam birokrasi yang sehat: transparansi dan keadilan. Rekrutmen seharusnya dilakukan berdasarkan kebutuhan, kualifikasi fisik, dan domisili.
Tapi dengan adanya “uang pelicin,” kesempatan kerja ini berubah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan.
Dampaknya tak bisa dianggap remeh. Masyarakat miskin yang benar-benar membutuhkan pekerjaan justru tersingkir oleh mereka yang memiliki akses finansial dan koneksi.
Kesenjangan sosial pun semakin lebar, mempertegas betapa birokrasi masih menjadi arena permainan bagi segelintir orang.
Bukan Sekadar Pungli, Tapi Celah Korupsi
Pertanyaan besar pun muncul: ke mana perginya uang yang dipungut dari para calon pekerja PPSU? Jika aliran dana ini tidak diaudit, bukan mustahil ada jaringan pungli yang lebih luas di baliknya.
Praktik ini berpotensi menjadi bagian dari korupsi sistemik di tingkat lokal. Jika rekrutmen pekerja kasar saja harus menyetor uang, bagaimana dengan jabatan lain yang lebih strategis? Kasus PPSU hanyalah gejala dari penyakit yang lebih besar dalam tata kelola pemerintahan.
Hilangnya Kepercayaan Publik
Dampak paling berbahaya dari praktik semacam ini adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Warga akan semakin skeptis terhadap setiap program yang dicanangkan, karena merasa semuanya hanyalah ajang transaksional.
Jika hal ini terus dibiarkan, bukan hanya birokrasi yang semakin kotor, tetapi juga stabilitas sosial yang terancam.
Kepercayaan publik adalah fondasi pemerintahan yang sehat, dan saat fondasi itu rapuh, krisis legitimasi hanya tinggal menunggu waktu.
Saatnya Reformasi Total
Pemerintah DKI Jakarta tidak boleh tinggal diam. Audit menyeluruh harus segera dilakukan untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dalam praktik ini.
Transparansi dalam rekrutmen PPSU harus ditingkatkan, mulai dari sistem seleksi yang lebih ketat hingga publikasi daftar penerima beserta alasan mereka lolos.
Lebih dari itu, sanksi tegas harus diberikan kepada oknum yang terbukti bermain di balik layar.
Pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti di lingkup atas, tetapi juga harus menyentuh level pemerintahan yang lebih kecil.
Di sisi lain, masyarakat juga harus berani bersuara. Jika praktik semacam ini dianggap normal dan dibiarkan begitu saja, maka perubahan tidak akan pernah terjadi.
Jakarta harus memilih: melawan korupsi, atau membiarkannya semakin mengakar? (A.T)















Orang miskin dilarang jadi PJLP. Semuanya orang bawaan, percuma kagak diterima kalau ga ada orang dalem
Lihat ppsu sekarang gw ikut Seneng, motornya keren-keren, baju seragamnya bersih-bersih, masih muda-muda, kerjanya enak cuma moto-moto. Iya anak orang kaya, yg miskin jangan ngiri hahaaa
Lihat nohhh di kalideres anak camat jadi petugas RPTRA, orang miskin cari kerja susah bener ya. Yg kerjaa org kaya semua hahhaaaaaa. PJLP dikuasi ASN, Luaran, camat
Jadi inget tahun 2021 pernh cba ngelamar ppsu di kelurahan duri kepa. Kalau ga salah waktu itu ASN nya pak Maizar. Kalau inget Sakit hati banget, udah bikin surat lamaran, surat kesehatan, SKCK, materai, buka rekening. Waktu test lapangan lolos, wawancara lolos seneng tuhhh…. eh waktu pengumuman, nama gw kagak ada. Ehhh denger2 yg diterima malah anak kembangan, ga taunya orangnya PJ. Lurah waktu itu. Bangke bener dahh ahhh…. Orang Duri Kepa pada gigit jari semua. He he he
Semua bisa terjadi krn pake duit, yg kaya makin kaya yg miskin makin melarat ☺️
Aaaahhh udahh kagak aneh….
Di kelurahan gw nohh. Duri kepa. dari penjaga RPTRA sama PPSU kebanyakan saudara ASN, kalau ga mereka pakai jalur belakang. Kite orang asli Duri Kepa, ngelamar kagak pernah diterima.
Lahhh ada orng DK disini.
Bener banget tuhh, inget dulu ada PJ. Lurah yg orngnya sok ganteng sama tengil banget. kalau ga salah namanya Abdul Rosid menjabat di DK aji mumpung, dia bawa saudara2nya kesini. 3 orang PPSU, 1 orang penjaga RPTRA.
mana nih Inspektorat yg katanya tugasnya dalam pengawasan kinerja ASN. kayaknya diem-diem aja. ditindaklanjuti dong keluhan masyarakat, jangan di kantor aja kerjanya
Bener banget tuh, saudara saya 3 kali berturut-turut ikut seleksi tapi ga lolos juga.
Bener banget tuh, saudara saya 3 kali berturut-turut ikut seleksi tapi ga lolos juga. Eehhh yg lolos katanya malah orang luar semua. Denger2 sich masih ada saudara sama ASN.