Satujuang- IQ (Intelligence Quotient) atau kecerdasan intelektual sering digunakan untuk menilai tingkat kecerdasan seseorang, termasuk anak-anak.
Banyak orang tua ingin mengetahui skor IQ anak mereka melalui tes khusus. Skor IQ diukur dalam angka, di mana semakin tinggi angkanya, semakin tinggi pula kecerdasan seseorang.
Sebaliknya, skor rendah dapat mengindikasikan gangguan intelektual atau Intellectual Disability (ID).
Tes IQ yang Umum Digunakan
Dua tes IQ yang paling umum digunakan saat ini untuk mengukur IQ anak adalah Stanford-Binet dan Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC). Kedua tes ini berbeda dalam cara menghitung skor dan kategorinya.
1. Tes Stanford-Binet
Tes ini dirancang untuk menilai kemampuan anak dan mengidentifikasi mengapa beberapa anak mungkin tertinggal dari rekan sebayanya.
Berikut adalah kategori skor IQ berdasarkan versi terbaru tes Stanford-Binet:
– Skor 176-225: Teramat sangat berbakat (profoundly gifted)
– Skor 161-175: Sangat berbakat (extremely gifted)
– Skor 130-144: Berbakat (gifted)
– Skor 120-129: Superior
– Skor 110-119: Di atas rata-rata (high average)
– Skor 90-109: Rata-rata (average)
– Skor 80-89: Di bawah rata-rata (low average)
– Skor 70-79: Batas tertinggal (borderline delayed)
– Skor 55-69: Sedikit tertinggal (mildly impaired)
– Skor 40-54: Cukup tertinggal (moderately delayed).
2. Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC)
Tes ini dikembangkan oleh David Wechsler untuk mengukur kecerdasan anak usia 5-15 tahun.
Tes WISC terbagi menjadi dua kelompok: verbal dan performance, dengan total 12 tes yang mengukur berbagai kemampuan seperti pemahaman, berhitung, melengkapi gambar, dan merakit objek.
Batasan Tes IQ
Meskipun tes IQ berguna untuk mengukur beberapa aspek intelektual, psikolog klinis Tony Florio menegaskan bahwa tes ini hanya mengukur kemampuan terbatas seperti bahasa, pengetahuan umum, dan pemecahan masalah.
Tes IQ tidak mencakup kreativitas, motivasi, atau kepribadian. Selain itu, faktor-faktor seperti tingkat stres, nutrisi, dan dukungan sosial juga dapat memengaruhi hasil tes.
Seiring bertambahnya usia, skor IQ seseorang dapat berubah karena wawasan dan pendidikan yang bertambah. Oleh karena itu, hasil tes IQ tidak sepenuhnya statis atau definitif sepanjang hidup.(red/detik)






