Kolaborasi Membangun Pendidikan: Kunci Keberhasilan Setahun Kemendikdasmen

Oleh: An-Najmi Fikri R

Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam menghadirkan Pendidikan Bermutu. Satu tahun perjalanan program prioritas Kemendikdasmen membuktikan bahwa kemajuan pendidikan tidak lahir dari satu tangan, tetapi tumbuh dari kekuatan kolaborasi yang saling menghubungkan.

Hubungan dari pusat hingga daerah, dari guru hingga siswa, dari pemerintah hingga masyarakat. Pendidikan bukan lagi urusan birokrasi semata, melainkan gerakan bersama yang hidup dalam semangat gotong royong bangsa.

Komitmen untuk mencapai pendidikan bermutu bukan main-main. Dengan anggaran sebesar Rp181,72 triliun, tujuh program prioritas berhasil dijalankan dengan capaian yang mengesankan.

Revitalisasi satuan pendidikan, misalnya, telah menyentuh 15.523 sekolah, bahkan sekarang telah melampaui target yang sejak awal hanya 10.440 sekolah.

Keberhasilan ini tak mungkin tercapai tanpa dukungan pemerintah daerah sebagai perwakilan dari pusat dan masyarakat yang bahu-membahu memastikan pembangunan berjalan lancar, transparan, dan tepat sasaran.

Dari ruang kelas yang lebih layak, laboratorium yang lebih lengkap, hingga toilet dan UKS yang higienis dan bersih, semua menunjukkan wajah baru pendidikan Indonesia yang lebih maju.

Transformasi digital pendidikan yang kini menjangkau lebih dari 285.000 sekolah juga merupakan contoh nyata kolaborasi lintas sektor. Terlihat dalam pemerintah pusat menyiapkan infrastruktur dan kebijakan, sementara daerah yang memastikan jaringan internet dan sarana belajar digital dapat digunakan secara efektif.

Kemudian Guru-guru yang tidak lupa terus dilatih melalui bimbingan teknis menjadi penggerak utama dalam menghidupkan kelas-kelas digital. Karena tanpa partisipasi guru berkompetensi literasi digital, cita-cita untuk melakukan transformasi digital dalam pendidikan tidak akan pernah tercapai.

Kolaborasi yang sama terlihat dalam peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru. Pemerintah menyalurkan tunjangan profesi, subsidi upah, sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG), hingga insentif bagi guru non-ASN. Kenapa kolaborasi dalam program ini penting, karena untuk memastikan data, verikasi dan distribusi untuk kesejahteraan guru memerlukan terlibatan lembaga pendidikan, asosiasi guru, dan pemerintah daerah.

Program Indonesia Pintar (PIP) dan Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) juga menunjukkan kolaborasi yang solid. Dengan dukungan sekolah dan aparat desa, 18,5 juta siswa penerima PIP dan 4.679 penerima ADEM kini dapat belajar tanpa khawatir soal biaya.

Begitu pula dengan Program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) dan tunjangan guru ASN yang memperkuat daya dukung sekolah di berbagai daerah.

Beasiswa dan bantuan pendidikan ini adalah wujud nyata keadilan sosial yang terwujud karena sinergi bersama. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam memastikan data anak-anak dari keluarga miskin dan wilayah 3T tak tertinggal yang membutuhkan akses pemerataan dalam pendidikan.

Puncaknya, gerakan “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang membangun kedisiplinan anak, tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah. Kebiasaaan seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat menggambarkan peran aktif keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam membangun karakter generasi muda.

Keberhasilan tujuh program prioritas pendidikan ini memberi pesan kuat. Bahwasanya membangun SDM unggul bukan hanya urusan birokrasi kebijakan, melainkan tanggung jawab secara kolektif. Kolaborasi ini memperkuat nilai luhur bergotong royong sebagai ciri khas bangsa Indonesia sejak dulu.

Kerja kolaborasi ini juga bias menjadi contoh bagi intansi pemerintahan lainnya, bahwa kolaborasi sangat penting dalam keberhasilan suatu kebijakan yang di keluarkan.

Pendidikan bermutu untuk semua bukanlah mimpi yang jauh. Ia sedang tumbuh hari ini, melalui kolaborasi dari atas hingga akar rumput. Inilah fondasi sejati bagi pembangunan SDM bangsa yang berkarakter, berdaya saing, dan berkeadilan menuju generasi Indonesia Emas 2045.

Penulis merupakan Dosen di Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *