Satujuang.com – Dikisahkan pada tahun 1938, di Semidang Bukit Kabu ada seorang tokoh Pemuka Masyarakat setempat bernama Wak Mas Diah.
Wak Mas Diah merupakan seorang yang berilmu, ia menjabat sebagai juru tulis Pasirah (kepala pemerintahan marga) kala itu.
Tragedi mengamuknya harimau (setuo dalam penamaan masyarakat), diawali saat seekor harimau yang memangsa kerbau sangat besar milik warga setempat.
Kejadian itu pun membuat masyarakat heboh dan panik.
Atas kejadian itu, oleh Wak Mas Diah dipasanglah perangkap untuk menjebak sang harimau.
Ia menggunakan umpan dari sisa bangkai kerbau yang telah di mangsa oleh harimau itu sendiri.
Saat itu Wak Mas Diah seorang diri mengintai sang harimau dengan bermodalkan pedang, tombak dan senjata api jenis kecepek.
Yang ditunggu pun datang, sosok harimau jantan besar tinggi itu menampakan tubuhnya mendekati umpan potongan bangkai kerbau yang dipasang oleh Wak Mas Diah.
Melihat kehadiran harimau, Wak Mas Diah pun tidak tinggal diam, dengan menggunakan senjata kecepek miliknya, Wak Mas Diah membidik lalu menembak sang harimau.
Harimau pun mati, Wak Mas Diah kemudian memancung batang leher harimau menggunakan pedangnya.
Kepala harimau yang sudah terpenggal, dibawanya ke kampung dusun dekat jalan simpang 3 karang nanding, kemudian dia gantung didekat gardu desa.
Kepala harimau tersebut digantung selama 4 hari disana, setiap warga masyarakat kawasan Semidang yang melintas memukul kepala harimau dengan pentungan kayu yang sudah disediakan.
Sebagai tanda kekesalan mereka atas ulah harimau yanag memangsa ternak mereka.
Baik warga tua, muda, besar, kecil, laki-laki, wanita pasti memukul bangkai kepala harimau tersebut.
Setelah membunuh si harimau, beberapa hari kemudian, Wak Mas Diah bermimpi akan terjadi pembalasan dari gerombolan harimau penunggu Bukit Kabu (Bukit Jinggi).
Harimau yang dibunuh Wak Mas Diah itu ternyata anak kesayangan dari sang raja harimau kawasan Semidang Lagan di Bukit Kabu.
Tidak lama kemudian, mimpi Wak Mas Diah benar-benar terjadi.
Gerombolan kawanan harimau mendatangi perkampungan warga.
Mereka menuruni lereng Bukit Kabu menyebar menuju ke kawasan pemukiman perkampungan daerah semidang untuk melakukan pembalasan.
Tragedi mengamuknya harimau itu terjadi lebih kurang selama 4 tahun lamanya, diperkirakan lebih dari 100 orang warga dibunuh kawanan harimau.
Untuk menyelamatkan diri, warga dikawasan tersebut akhirnya pergi mengungsi.
Masyarakat menyebar menyelamatkan diri ke berbagai daerah (sekarang daerah tersebut dikenal dengan nama kecamatan karang tinggi kabupaten Bengkulu Tengah, kemudian Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong).
Wak Mas Diah sang penjagal pun ikut melarikan diri, mengungsi bersama keluarganya.
Kawasan tersebut akhirnya ditinggalkan 35 tahun lamanya oleh masyarakat.
Situasi kembali normal setelah datangnya seorang “pandai” dari minangkabau tepatnya orang payakumbuh bernama Ongku Khotiek Sulaiman.
Ongku Khotiek Sulaiman Berprofesi sebagai pedagang keliling menjual kain.
Singkat cerita, Ongku Khotiek Sulaiman yang ternyata mempunyai ilmu sakti ini, bertarung melawan kawanan harimau.
Ongku Khotiek Sulaiman menang dalam pertarungan sengit itu dan kawanan harimau mengaku kalah.
Kawanan harimau memutuskan kembali ke dalam rimba belantara, berjanji tidak akan mengganggu lagi, asalkan manusia tidak melanggar kesepakatan antara Ongku Khotiek Sulaiman dengan raja harimau.
Di era tahun 1978 an, setelah 35 tahun meninggalkan Semidang Bukit Kabu, masyarakat yang dulunya mengungsi bersama anak cucunya kembali ke tanah leluhurnya itu.
Saat ini wilayah tersebut sudah terdiri dari beberapa Desa Definitif otoritas kecamatan Semidang Lagan Kabupaten Bengkulu Tengah.
Mayoritas berprofesi sebagai petani sawit dan karet dengan sumber daya alamnya tambang batu bara yang dikelola sejak tahun 1984.
Juga disebutkan, salah satu alasan mereka kembali ke kawasan, karena adanya orang-orang marga Seluma yang datang dan mengklaim kepemilikan tanah disana.
Sementara Wak Mas Diah sang penjagal, dikisahkan mati dalam suatu pertempuran pergerakan melawan Belanda di Bengkulu.
Didekat Bukit Kabu ada satu keramat yang biasa disebut oleh masyarakat setempat “Keramat Serunting” dan di atas puncak bukit itu, konon ceritanya ada benda peninggalan sejarah leluhur terdahulu.
Setiap masuk bulan Juni tiap tahun, masyarakat setempat beramai-ramai melakukan ritual Semidang Bukit Kabu. Memanjatkan doa keselamatan agar terhindar dari bencana.
Sumber: Alm.Hud dan diceritakan kembali oleh Hery Kuswari












Kami dari sana juga cicit,dari Semidang lagan keluarga ad juga yg di durian demang
Kami salah satu cucu, cicit yg berasal dari Semidang bukit kabu🙏🏻
Kami dari sana juga cicit,dari Semidang lagan keluarga ad juga yg di durian demang