Jakarta – Rupiah berpotensi menguat bergerak di bawah level Rp14.650 per dolar Amerika Serikat (AS), Senin (8/5/23).
Hal tersebut seiring dengan publikasi data cadangan devisa domestik dan inflasi AS.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, fokus pasar saat ini ialah data cadangan devisa dalam negeri yang diperkirakan akan mengalami surplus.
Dimana, sejak Maret lonjakan cadangan devisa terjadi dalam 5 kali beruntun.
“Dengan angka yang masih surplus akan membawa rupiah menguat,” ujar Nanang dikutip dari Kontan.co.id.
Nanang menambahkan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) akan menggelar pertemuan dan konferensi pers mengenai kondisi ekonomi terkini.
Respon kebijakan seperti apa dari fiskal dan moneter dalam menanggapi perkembangan krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) serta plafon utang pemerintah AS. Serta, bagaimana melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2023 yang menembus 5,03% year on year (YoY).
Pasar global akan mencermati juga angka inflasi konsumen dan produsen dari AS yang diperkirakan akan mengalami penurunan lanjutan.
Sementara, pasar Asia di pagi hari akan merespon positif atas membaiknya data ketenagakerjaan AS.
Data tenaga kerja Non Farm Payroll (NFP) AS secara tak terduga menambahkan 253.000 pekerjaan pada April 2023.
Nanang mengamati potensi penguatan rupiah diperkirakan akan terjadi pada rentang harga Rp14.600 per dolar AS – Rp 14.700 per dolar AS pada Senin (8/5).
Potensi penguatan akan menguji area Rp14.620 per dolar AS, namun waspadai penutupan di bawah Rp14.600 per dolar AS untuk mengejar area Rp14.550 per dolar AS. Sementara potensi pelemahan bisa menuju Rp14.710 per dolar AS.
Sebelumnya, Nanang menjelaskan, rupiah catat penguatan terbatas di sesi perdagangan pada Jumat (5/5) lalu seiring dengan pelemahan dolar AS karena serangkaian sentimen negatif yang membayangi Amerika, baik dari data ekonomi yang kurang baik, ancaman jilid II kasus perbankan, serta ancaman gagal bayar atau jatuh tempo utang.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,03% di posisi Rp 14.670 per dolar AS tetapi dalam sepekan mata melemah 0,03%. Namun tidak pada kinerja saham Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengikuti jejak indeks utama Wall Street yang bergerak melemah.











