Naik Jadi 16 Orang Diduga Keracunan Menu MBG di Kepahiang, Dapur SPPG Eks PJU Polda Bengkulu Disorot

2 menit baca

Kepahiang, Satujuang.com – Polres Kepahiang dikabarkan tengah gencar melakukan penyelidikan mendalam setelah jumlah korban dilaporkan membengkak menjadi 16 orang keracunan menu MBG (Makan Bergizi Gratis) di Kabupaten Kepahiang.

Peristiwa yang melanda SD Negeri 18 Kepahiang pada Kamis (4/6/26) ini tidak hanya menumbangkan belasan siswa, melainkan juga menyasar guru dan penjaga sekolah hingga harus dilarikan ke UPT Puskesmas Kelobak.

Kapolres Kepahiang, AKBP Yuriko Fernanda, turun langsung meninjau kondisi para korban yang tengah menjalani perawatan medis.

Pihaknya menegaskan bahwa kepolisian bergerak cepat dengan mengamankan sampel makanan dari lokasi untuk diuji klinis di laboratorium.

“Perlu kami sampaikan bahwa terjadi siswa, guru, dan penjaga sekolah sekitar 16 orang terkontaminasi makanan MBG,” ungkap Yuriko saat berada di Puskesmas Kelobak.

Selain mengamankan sampel, jajaran Polres Kepahiang juga menyisir area sekolah serta mendatangi langsung dapur penyedia makanan.

Langkah ini diambil guna mendeteksi titik awal sumber kontaminasi zat berbahaya tersebut.

“Kita mendatangi pihak sekolah untuk melihat apakah terkontaminasi di dapur atau di sekolah,” tambahnya.

Fakta mengejutkan terkuak dari data operasional di lapangan. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai menu MBG bermasalah tersebut ternyata memiliki jangkauan distribusi yang cukup luas.

Dapur ini diketahui menyuplai makanan untuk lima sekolah di wilayah Kecamatan Kepahiang dengan total sasaran mencapai 1.700 penerima manfaat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dapur SPPG tersebut santer diketahui milik salah seorang mantan Pejabat Utama (PJU) Polda Bengkulu.

Kendati demikian, pihak kepolisian menegaskan belum ada keterkaitan legal yang dapat disimpulkan antara status kepemilikan dapur dengan insiden keracunan ini sebelum hasil laboratorium keluar.

Kapolres Kepahiang menegaskan bahwa kepolisian belum bisa menetapkan status hukum maupun penyebab pasti insiden sebelum mengantongi hasil resmi pengujian laboratorium.

Hasil uji tersebut nantinya akan menjadi pijakan kuat untuk menentukan nasib operasional dapur SPPG ke depan.

“Ke depan kita koordinasi dengan pihak MBG-nya, boleh atau tidak menyuplai makanan. Sementara untuk penyegelan, nanti kita lihat hasil laboratoriumnya dulu,” pungkas Yuriko.

Hingga saat ini, publik dan orang tua murid di Bengkulu masih menanti dengan cemas hasil uji laboratorium tersebut.

Kasus ini kian menjadi sorotan tajam karena menyangkut pertanggungjawaban keselamatan anak-anak sekolah dalam program strategis nasional.

Ditambah lagi kejadian terjadi setelah terjadi penanganan hukum di BGN Pusat dan inspeksi mendadak yang sempat dilakukan pihak DPRD Provinsi Bengkulu pada bulan Mei 2026 kemarin.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *