Satujuang- Kota Bengkulu, kota kecil di pantai barat Sumatra, memiliki sebuah tradisi yang tak dimiliki daerah lain.
Tradisi itu bernama Tabut, sebuah warisan spiritual yang datang jauh dari tanah Karbala, namun tumbuh dan berakar kuat di tanah Bencoolen.
Ia bukan sekadar festival. Ia adalah penanda jati diri, denyut sejarah, dan perekat keberagaman budaya di Bengkulu.
Tabut adalah warisan yang lebih dari sekadar ritual.
Setiap tahun, pada bulan Muharam, masyarakat tumpah ruah menyaksikan prosesi Tabut, Ambil Tanah, Arak, Puncak, hingga Tabut Tebuang.
Tapi siapa yang tahu bahwa di balik gegap gempita itu, ada sebuah komunitas yang selama ratusan tahun memikul beban warisan ini?
Mereka adalah Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bencoolen, komunitas Arab keturunan Imam Senggolo yang mewarisi tradisi ini secara turun-temurun.
Negara pun telah mengakui mereka, tahun 2017, negara melalui Kementerian Hukum dan HAM menetapkan Tabut sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).
Artinya, secara hukum, pemerintah tidak memiliki hak menyelenggarakan Tabut tanpa keterlibatan atau izin dari KKT.
Pemerintah bisa menjadi fasilitator, promotor, atau pendukung. Tapi bukan pemilik. Sebab Tabut bukan diciptakan oleh negara, melainkan diwarisi oleh komunitas.
Festival Tabut: Wajah Inklusif Budaya Bengkulu
Yang menarik, dari tahun ke tahun, Festival Tabut bukan hanya menampilkan ritual Tabut.
Ia telah berkembang menjadi panggung budaya yang inklusif, menyatukan banyak unsur seni dari berbagai daerah. Beberapa di antaranya:
- Atraksi Telong-Telong & Ikan-Ikan dari anak-anak kampung pesisir,
- Tari-tarian daerah dari kabupaten lain di Bengkulu,
- Kolaborasi Kesenian Nusantara dari berbagai Daerah di Indonesia,
Festival ini memberi ruang ekspresi bagi semua suku dan komunitas, namun pijakan utamanya tetap Tabut, yang menjadi magnet dan poros utamanya.
Berhasil melahirkan talenta-talenta baru dalam dunia kesenian di Bengkulu, menjaga semangat untuk tetap menjaga seni budaya.
Tabut Memberi, Tapi Apakah Kita Pernah Balas?
Dengan segala kontribusinya, apa yang sudah kita berikan kembali kepada Tabut?
Ia telah mengenalkan Bengkulu ke pentas nasional dan internasional.
Ia menghidupkan ekonomi rakyat dari hotel, UMKM, kuliner, hingga pengrajin dhol.
Ia memperkaya nilai keislaman di tengah masyarakat multikultural.
Ia menjaga posisi komunitas Arab Bengkulu agar tetap diakui dalam sejarah dan budaya.
Tabut memberi. Ia tidak pernah meminta. Tapi layakkah kita membiarkannya terluka di rumahnya sendiri?
Kita justru menyaksikan bagaimana pemiliknya kadang tersingkir dari penyelenggaraan, hanya karena pemerintah merasa lebih berhak karena punya anggaran.
Belajarlah dari Tradisi Lain
Tradisi budaya milik komunitas tidak bisa direbut oleh negara atau institusi. Di tempat lain, prinsip ini dijaga dengan baik:
Kasada di Bromo, hanya boleh dijalankan oleh Dukun Adat Tengger
Rambu Solo’ di Toraja, tidak bisa digelar tanpa tetua adat
Ngaben di Bali, hanya sah jika melibatkan keluarga pemilik tradisi
Semuanya dilindungi sebagai KIK, dan pemerintah hanya hadir sebagai pendukung, bukan pengganti.
Begitu pula dengan Tabut. KKT Bencoolen adalah pemilik sahnya. Negara telah mengakuinya. Kini masyarakat juga harus tahu dan menghormatinya.
Bengkulu harus belajar bersikap adil pada warisannya sendiri.
Tabut bukan hanya warisan spiritual. Ia adalah wajah Bengkulu. Tanpa Tabut, Bengkulu kehilangan pusat gravitasinya di panggung kebudayaan nasional.
Kini saatnya Bengkulu bertanya pada dirinya sendiri: Sudahkah kita berterima kasih kepada Tabut?
Dan jika belum, maka inilah saatnya. Bukan karena kita diwajibkan, tapi karena kita berutang pada sejarah, pada leluhur, dan pada jati diri kita sendiri.












KKT bencoolen sdh berumur ratusan tahun … Wawwwww
Dan merupakan sebuah komunitas arab ???? Ngapo jadi komunitas arab kini dak 😁 bukan nyo di buku karya ir.syafril mengatokan KKT bencoolen itu keturunan dari punjab ,pakistan … Atau jangan2 mulai ndak menggiring lg asal muasal tabu/tabot dr arab , idak lg dr punjab ,pakistan .. krna selamo iko yg di gaung kan tabut/tabot berasal dr punjab . Pakistan
Budaya dan masyarakat itu satu paket, satu kesatuan.. Tak ada budaya yg lepas dari masyarakat.. Juga tak ada masyarakat yg tanpa budaya.. Budaya dan masyarakat adalah Dwi tunggal.. Tabut/tabot adalah produk budaya dan juga produk masyarakat. . Sebagai produk budaya dan produk masyarakat.. tabut sudah barang tentu bergantung pada eksistensi masyarakat…dengan bahasa lain, .. Bangkrut -suburnya produk budaya (termasuk tabut) sangat bergantung dan dipengaruhi oleh daya juang – daya gigih masyarakatnya… Dalam percaturan budaya global, produk budaya lokal cenderung terseok bahkan bisa hilang ditelan jaman.. “geheel op” hilang dari peredaran sistem globalisasi budaya global. Namun semua itu kembali pada masyarakat pemilik dan pendukungnya.. Jika dalam percaturan menghadapi budaya global, masyarakatnya tak mampu bertahan.. maka dipastikan produk budayanya akan tenggelam… Tantangan dan godaannya luar biasa berat.. Tantangan internal, biasanya terjadi karena faktor kejenuhan, bosan, dan menganggap. Produk budaya lamanya tidak. Menarik, monoton, usang, kolot dsb… masyakatnya menjadi cuek, tak peduli dan ingin mencari sesuatu yg baru.. Mulai terpikat oleh produk budaya luar yang dianggap lebih menarik, mempesona, dan..memikat .. dsb.. seiring dg ini produk luar yg begitu memikat mempesona tanpa disadari telah menggoyahkan ketahanan masyarakat.. . . (Bersambung…)
Ucapan terimakasih punya cakupan luas.. Sayo sebagai pelaku budaya Tabut sakral.. Menghancurkan terimakasih ke tim satu juang..
Tentu banyak pro kontra tentang pelaksanaan budaya Tabut sakral.. Pelan pelan kito samo samo meluruskan anggapan negatif tentang pelaksanaan ritual budaya Tabut sakral.