Selain Tuntut Pecat Menteri Agama, FPR Akan Ungkap Dugaan Korupsi

Panggilan Aksi Front Pembela Rakyat

Bengkulu – Lembaga Front Pembela Rakyat (FPR) akan menggelar aksi unjuk rasa pada pada Rabu 2 Maret 2022 mendatang.

Diungkapkan oleh Ketua Umum FPR, Rustam Ependi, aksi ini merupakan reaksi dari pernyataan yang dilontarkan oleh Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas belum lama ini.

“Aksi akan kita lakukan dibeberapa tempat salah satunya di Simpang 5 Kota Bengkulu dan didepan Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Bengkulu,” sampainya Jum’at (25/2/22).

Dikatakannya, selain sebagai bentuk protes atas pernyataan yang disampaikan oleh Menag Yaqut, juga akan diungkapkan beberapa dugaan yang terjadi di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu.

“Selain kita meminta Presiden pecat Menag Yaqut, kita juga akan ungkapkan beberapa indikasi dugaan kasus korupsi yang terjadi di lingkup Kanwil Kemenag Bengkulu,” bebernya.

Baca Juga :  Tabrak Pagar Rumah Warga, Pengemudi Mobil Ngacir

Sekali lagi Ia sangat menyayangkan atas pernyataan yang disampaikan oleh Menag Yaqut yang telah melahirkan banyak reaksi dari berbagai elemen masyarakat, bahkan sampai dilaporkan ke pihak yang berwajib.

“Jangan sampai toleransi yang telah dibangun dengan baik hingga saat ini, menjadi rusak lagi. Masyarakat sedang dihadapkan dengan Virus Covid-19 malah ditambah lagi dengan statment yang ngawur begini,” tegasnya.

Rustam menegaskan, seorang Menteri harusnya menjaga setiap kata dari kalimat yang diucapkannya dihadapan publik agar tidak tercipta polemik.

“Jadilah pejabat yang membawa kedamaian,” pungkasnya.

Transkrip Statement Menag Yaqut Cholil Qoumas :

Soal aturan azan, kira sudah terbitkan surat edaran pengaturan. Kira tidak melarang masjid-musala menggunakan Toa, tidak. Silakan. Karena kita tahu itu bagian dari syiar agama Islam. Tetapi ini harus diatur, tentu saja. Diatur bagaimana volume speaker, toanya tidak boleh kencang-kencang, 100 dB maksimal. Diatur kapan mereka bisa mulai menggunakan speaker itu, sebelum azan dan setelah azan, bagaimana menggunakan speaker di dalam dan seterusnya. Tidak ada pelarangan.

Aturan ini dibuat semata mata hanya untuk membuat masyarakat kita semakin harmonis. Meningkatkan manfaat dan mengurangi mafsadat. Jadi menambah manfaat dan mengurangi ketidakmanfaatan.

Karena kita tahu, misalnya ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100 meter, 200 meter itu ada musala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka semua menyalakan Toa-nya di atas, kayak apa. Itu bukan lagi syiar, tapi menjadi gangguan buat sekitarnya.

Kita bayangkan lagi, saya muslim. Saya hidup di lingkungan nonmuslim, Kemudian rumah ibadah saudara-saudara kita nonmuslim itu membunyikan toa sehari lima kali dengan kencang-kencang secara bersamaan, itu rasanya bagaimana.

Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya kiri, kanan, depan, belakang pelihara anjing semua. Misalnya, menggonggong dalam waktu yang bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa? Bahwa suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak menjadi gangguan. Speaker di musala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada yang merasa terganggu.

Agar niat menggunakan Toa menggunakan speaker sebagai sarana, wasilah untuk melakukan syiar tetap bisa dilaksanakan, tanpa harus mengganggu mereka yang mungkin tidak sama dengan keyakinan kita. Berbeda keyakinan kita harus tetap hargai. (Red)