Semarang – Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu safari menghadiri kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) beberapa kecamatan di Kota Semarang.
Musrenbang itu telah dilaksanakan beberepa Kecamatan sejak bulan Februari 2023 lalu.
Kecamatan Candisari menjadi kunjungan keduanya setelah sebelumnya hadir di Musrenbang Kecamatan Tembalang, Rabu (15/2/23).
Safari Musrenbang dilakukan mbak Ita, sapaan akrab orang nomor satu di Kota Semarang ini dalam rangka memantau secara langsung usulan warga yang diusulkan untuk tahun 2024.
Di Kecamatan Candisari, Wali Kota Semarang hadir bersama beberapa OPD dan juga anggota DPRD Kota Semarang Komisi B, Bambang Sri WIBowo dan Nolly.
Diharapkan Mbak Ita tak hanya berfokus pada Musrenbangnya saja. Namun hendaknya dapat flashback melihat hasil yang telah dicapai oleh Musrenbang sebelumnya.
“Apa sih yang sudah menjadi hasil disaat pembangunan melalui Musrenbang di tahun 2022. Misal tadi ada PTSL, bantuan sosial juga merupakan wujud kokompakan gotongroyong dari warga. Serta adanya UMKM merupakan wujud kepedulian kelurahan dan kecamatan kepada pelaku usaha,” tutur Mbak Ita.
Dari beberapa program yang telah dilaksanakan, dirinya selalu mengingatkan adanya empat program arahan Presiden RI yang menjadi prioritas dan selalu disampaikan dalam setiap kesempatan.
Pertama, pengendalian inflasi. Dengan terjadinya inflasi tinggi berakibat pada penurunan nilai mata uang yang akan mengakibatkan kemampuan daya beli berkurang.
“Yang kedua terkait ketahanan pangan. Jika dapat berdaulat pangan tentu akan dapat menstabilkan kebutuhan pangan di masyarakat,” kata Mbak Ita.
Ketiga adalah kemiskinan. Kalau inflasi tinggi dan bahan-bahan pokok pangan tidak tersedia serta tidak ada uang, maka yang akan terjadi orang menjadi miskin.
“Yang ke-4 adalah Stunting. Jika ada warga ibu hamil kekurangan gizi dan miskin, itu yang akhirnya akan menjadi stunting,” imbuhnya.
Selain empat program arahan Presiden tersebut, Pemerintah Kota Semarang sangat memerhatikan terkait infrastruktur yang ada.
Dan Pemkot Semarang dalam hal ini telah memberikan anggaran perawatan.
“Selama ini kan kecamatan dan kelurahan tidak ada anggaran perawatan. Lha trus piye, iso mbangun raiso ngrumati (lha terus gimana bisa membangun tapi tidak bisa merawat),” ucap Mbak Ita.
Penambahan ini dimaksudkan Mbak Ita agar dapat digunakan oleh kelurahan-kelurahan yang ambang batas penggunaan anggarannya kurang, sehingga mendapat tambahan anggaran sesuai juklak juknis yang ada.
“Penambahan ini tergantung indikator, ini nanti Bappeda yang akan memberi indikatornya, kemiskinannya, luas wilayah kelurahannya dan jumlah penduduknya, ini tugas Bappeda,” ungkap Ita.
Adapun program andalan Mbak Ita terkait Urban Farming, Pemkot Semarang dalam waktu dekat akan mengadakan lomba Urban Farming yang akan dilaksanakan di 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang.
“Ini nanti ada kejuaraan, yang bagus ya dapat juara, yang jelek ya diomongi,” pungkasnya. (red/hdi).











