PSHT Provinsi Bengkulu Bentuk Pengurus Kabupaten Seluma dan Kota, Penegasan Berakhirnya Dualisme

Satujuang, Bengkulu – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Provinsi Bengkulu resmi membentuk kepengurusan cabang Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu.

Langkah ini menjadi penegasan berakhirnya dualisme organisasi setelah Kementerian Hukum dan HAM mengesahkan kepengurusan Muhammad Taufik melalui AHU Tahun 2025.

Kegiatan yang digelar di Pondok PSHT Bengkulu, Selasa (30/9/2025), sekaligus menandai dimulainya konsolidasi organisasi di tingkat daerah.

Setelah kepengurusan provinsi terbentuk, kini PSHT Bengkulu memperluas struktur ke kabupaten/kota sesuai instruksi pusat agar seluruh wilayah menyesuaikan diri dengan kepengurusan yang sah.

Praktisi hukum Nasarudin, SH, MH, C.Me, CMed, Sp.Ptn menegaskan, pembentukan cabang ini merupakan langkah tepat baik secara hukum maupun organisasi.

“Negara kita adalah negara hukum. Kepengurusan PSHT yang sah adalah yang sudah disahkan Kemenkumham melalui akta notaris dan AHU 2025. Putusan ini bersifat inkrah, final, dan mengikat. Karena itu, semua pihak wajib menghormati dan mengikuti kepengurusan resmi,” tegas Nasarudin.

Ia menambahkan, pengesahan ini mengakhiri polemik dualisme yang sempat membelit PSHT.

“Tidak ada lagi ruang untuk kepengurusan ganda. Instruksi dari pusat sudah jelas dan tegas, maka daerah harus patuh. Bila ada pihak yang mencoba mempertahankan dualisme, sama saja melawan putusan hukum yang sudah final,” ujarnya.

Selain menekankan aspek hukum, Nasarudin mengingatkan pentingnya mengembalikan PSHT ke jati dirinya sebagai organisasi persaudaraan sekaligus wadah pembinaan generasi muda.

PSHT adalah persaudaraan. Roh utamanya adalah silat, yang mendidik karakter, membangun iman, menumbuhkan jiwa sosial, dan mempererat silaturahmi.

“Perbedaan pandangan di masa lalu jangan lagi memecah belah,” ucapnya.

Ia berharap ke depan PSHT Bengkulu terus berkembang dengan semangat pemersatu, sekaligus menjadi benteng moral dan sosial di tengah masyarakat.

“Mari kita besarkan organisasi yang mulia ini bersama-sama. Jangan lagi terjebak pada dualisme. Yang dibutuhkan sekarang adalah kekompakan, pengabdian, dan penguatan nilai persaudaraan,” tutup Nasarudin. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *