Pelabuhan Pulau Baai Mati Suri, Ekonomi Bengkulu Tercekik Alami Kontraksi Serius

Satujuang, Bengkulu– Sudah delapan bulan Pelabuhan Pulau Baai lumpuh total. Akibatnya, perekonomian Bengkulu mengalami kontraksi serius. Pendangkalan alur pelayaran menjadikan pelabuhan utama ini tak bisa difungsikan, dan dampaknya dirasakan luas oleh pelaku usaha hingga sektor penerimaan negara.

“Pelabuhan Pulau Baai adalah nadi ekonomi Bengkulu. Tapi karena pendangkalan, sudah delapan bulan tidak beroperasi. Sekarang proses pengerukan baru berjalan,” ungkap Asisten II Pemprov Bengkulu, RA Denni dalam Sarasehan Ekonomi Bengkulu yang digelar Bank Indonesia (BI) Bengkulu, Rabu (18/6/25).

Kondisi ini membuat arus barang dan jasa macet. Biaya logistik melonjak. Aktivitas ekspor Bengkulu praktis berhenti.

Para pengusaha terpaksa memutar arah, karet dikirim via Palembang, CPO lewat Padang dan Lampung. Imbasnya, pendapatan dari bea cukai dan pajak ekspor ikut anjlok.

“Pendangkalan alur laut Pulau Baai berkontribusi terhadap turunnya penerimaan bea dan cukai,” terang Kepala Kantor Wilayah DJPb Bengkulu, M.Irfan Surya Wardana.

Kepala BI Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat menegaskan bahwa kondisi ini tak bisa dianggap sepele.

Menurutnya, Pulau Baai bukan sekadar pelabuhan, tapi gerbang utama pergerakan ekonomi Bengkulu.

“Pelaku usaha merasakan langsung dampaknya. Ekspor batu bara terkontraksi, aktivitas ekspor turun, dan penerimaan negara dari pajak ikut tertekan,” ujar Wahyu.

Ia berharap pengerukan alur pelayaran dapat segera diselesaikan. Sebab jika berlarut, Bengkulu bukan hanya kehilangan momentum ekonomi, tapi juga menunjukkan kegagalan dalam menjaga infrastruktur vital yang seharusnya menjadi tulang punggung daerah. (Fr/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *