Seluma, Satujuang.com – Di saat anggaran perjalanan dinas unsur pimpinan DPRD dan pejabat eksekutif Kabupaten Seluma bergulir hingga miliaran rupiah dengan dalih pelatihan serta “jemput bola”, ironi pembangunan kembali dipertontonkan.
Warga di pelosok justru dipaksa bergotong royong mengumpulkan uang dari kantong pribadi untuk menambal kerusakan infrastruktur jalan yang seharusnya menjadi kewajiban dan prioritas pemerintah daerah.
Potret memprihatinkan ini tampak nyata di jalur penghubung Desa Cawang dan Desa Arang Sapat, Kecamatan Lubuk Sandi.
Bermodalkan dana swadaya sebesar Rp5,2 juta yang berhasil digalang dari masyarakat dan para pengguna jalan, warga mulai melakukan pengecoran jalan secara mandiri.
Aksi ini difokuskan di kawasan tanjakan dekat Jembatan Air Paungan yang selama ini kondisinya sangat sulit dan membahayakan untuk dilalui, terutama saat curah hujan tinggi.
Pada tahap awal pengerjaan, masyarakat telah menyelesaikan pembangunan rabat beton sepanjang kurang lebih 46 meter dari total target pengerjaan sepanjang 200 meter di sisi kiri dan kanan jalan.
Perwakilan warga Desa Cawang, Doni, mengungkapkan bahwa aksi gotong royong ini murni bentuk kepedulian masyarakat untuk saling membantu agar fasilitas umum yang digunakan setiap hari bisa berfungsi dengan aman.
“Jalannya sekitar 200 meter lebih yang akan dipasang rabat beton di tanjakan dekat Jembatan Air Paungan. Pekerjaan hari ini lebih kurang 46 meter, dan nanti akan kembali kita lanjutkan gotong royong di hari berikutnya setelah dana terkumpul,” ujar Doni, Rabu (5/8/26).
Doni menegaskan bahwa masyarakat sama sekali tidak bermaksud mengambil alih kewajiban pemerintah daerah.
Namun, keterdesakan akses mobilitas warga membuat mereka memilih bergerak sesuai kemampuan dana yang terkumpul.
“Kami hanya ingin membantu dan ini bentuk kepedulian kami sebagai warga. Kami sangat berharap pemerintah daerah ke depan bisa kembali menganggarkan pembangunan jalan di wilayah Seluma secara nyata,” ungkapnya.
Ia menambahkan, gerakan patungan ini akan terus dibuka dan dilanjutkan ke beberapa titik tanjakan lain yang kondisinya tak kalah rusak apabila penggalangan sumbangan swadaya berikutnya kembali membuahkan hasil.
Aksi swadaya sebesar Rp5,2 juta ini memang bernilai kecil dibanding kebutuhan anggaran pembangunan jalan secara komprehensif.
Namun, pergerakan warga ini menjadi sindiran terbuka bagi jajaran eksekutif dan legislatif Seluma agar lebih memprioritaskan hak dasar masyarakat ketimbang memprioritaskan agenda dinas luar daerah. (da)











