Bengkulu, Satujuang.com – Menjelang HUT Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli 2026, Polda Bengkulu kembali menunjukkan kepedulian nyata melalui program bedah rumah.
Kapolda Bengkulu, Irjen Pol Mardiyono, secara resmi melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama untuk unit rumah ke-77 hingga ke-80 pada Rabu (13/5/26).
Program ini merupakan bagian dari target sosial yang telah dicanangkan sebelumnya guna menyambut usia ke-80 Korps Bhayangkara di wilayah Provinsi Bengkulu.
Bagi para penerima manfaat, bantuan ini menjadi titik awal perubahan hidup menuju tempat tinggal yang jauh lebih layak serta aman untuk dihuni.
“Hari ini kita melakukan groundbreaking bedah rumah ke 77, 78, 79 dan 80,” ujar Kapolda Bengkulu di sela kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa jumlah 80 rumah tersebut sengaja disesuaikan dengan angka ulang tahun Polri yang akan diperingati dalam waktu dekat.
“Sesuai target saya pada waktu itu ada 80 rumah kita kaitkan dengan hari ulang tahun Polri ke-80,” jelas Irjen Pol Mardiyono.
Kapolda menambahkan bahwa keberhasilan program ini merupakan buah dari kolaborasi solid antara kepolisian dengan berbagai lembaga mitra dan sektor swasta.
Kerja sama tersebut melibatkan jajaran internal Polda Bengkulu, DPD REI, Pelindo, hingga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) wilayah setempat.
“Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama seluruh jajaran Polda Bengkulu, DPD REI, Pelindo dan Baznas,” lanjut jenderal bintang dua tersebut.
Irjen Pol Mardiyono menegaskan bahwa misi kemanusiaan ini tidak boleh berhenti hanya pada angka 80 rumah yang telah menjadi target awal.
Ia berharap tongkat estafet program sosial yang sangat menyentuh masyarakat kecil ini dapat terus dilanjutkan oleh kepemimpinan serta jajaran kepolisian berikutnya.
“Program yang sangat bermanfaat ini kedepan akan disampaikan kepada Kapolda yang baru dan seluruh jajaran,” tegasnya memberikan pesan mendalam.
Salah satu keluarga yang beruntung menerima bantuan tersebut adalah keluarga Tono, warga Jalan Raden Fatah, Kelurahan Pagar Dewa, Kota Bengkulu.
Tono selama bertahun-tahun tinggal di rumah papan lapuk beralas tanah bersama istri, empat anak, serta orang tuanya yang mengalami kondisi tunanetra.
Sebagai pencari barang bekas, penghasilannya yang hanya puluhan ribu rupiah per hari mustahil bisa digunakan untuk memperbaiki struktur hunian yang kian rapuh.
Isnawati, istri Tono, tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menyaksikan dimulainya pembangunan hunian baru bagi keluarga besarnya yang berjumlah tujuh orang itu.
Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Kapolda Bengkulu dan jajaran yang telah peduli terhadap nasib rakyat kecil seperti keluarganya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kapolda Bengkulu dan jajaran. Tentunya program ini sangat membantu kami,” ungkap Isnawati dengan nada suara bergetar.
Bagi keluarga Tono, bantuan ini bukan sekadar pembangunan fisik bangunan, melainkan simbol hadirnya negara di tengah kesulitan hidup yang mereka alami. (Red)











