Miris! Warga Korban Gempa Kota Bengkulu Pada Mei 2025 Lalu Jadi Korban Janji Manis

Satujuang, Kota Bengkulu- Harapan Korban Gempa Kota Bengkulu di Perumahan Rafflesia Regensi untuk hunian layak pascagempa Mei 2025 masih sebatas angan, karena proyek pembangunan rumah rusak berat masih jauh dari target, Kamis (29/1/26).

Progres pembangunan kembali rumah rusak berat yang dikelola vendor bentukan BNPB masih sangat memprihatinkan hingga akhir Januari 2026, meski masa kontrak asli telah habis.

Dari total 27 unit rumah yang seharusnya dibangun dengan anggaran Rp60 juta per unit, baru 4 unit dinyatakan selesai 100 persen.

Sementara itu, puluhan rumah lainnya masih terbengkalai; beberapa baru berupa pondasi, lainnya tertahan pada tahap rangka.

Proyek yang dikerjakan oleh PT Guriang Manggung Parahiyangan (PT GMP) asal Cianjur sejatinya berakhir pada Desember 2025 lalu. Namun, masa kontrak kini diketahui diperpanjang hingga akhir Februari 2026.

Keterlambatan ini kontras dengan perbaikan rumah kategori rusak ringan dan sedang yang dilakukan secara mandiri oleh warga, sebagian besar justru sudah tuntas.

“Warga seolah disandera oleh sistem vendor,” keluh salah satu warga.

Terkait hal tersebut, lambannya progres ini memicu sorotan tajam terhadap fungsi pengawasan BNPB dan BPBD Kota Bengkulu.

Penggunaan pihak ketiga (vendor) untuk kategori rusak berat yang awalnya diharapkan mempercepat pembangunan, justru menjadi titik lemah. Beberapa poin krusial menjadi keresahan warga:

  • Transparansi Anggaran: Dana tahap pertama sebesar 40% sudah cair sejak lama, namun aktivitas di lapangan sering terhenti karena tukang meninggalkan lokasi.
  • Kualitas Material: Kekhawatiran warga soal penggunaan pasir laut yang berisiko merusak struktur bangunan belum terjawab secara teknis.
  • Akuntabilitas Vendor: PT GMP selaku kontraktor dinilai tidak serius menyelesaikan kewajibannya tepat waktu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi baik dari BPBD Kota Bengkulu, BNPB, maupun perwakilan PT Guriang Manggung Parahiyangan.

Jika pembangunan ini tidak kunjung rampung hingga akhir Februari 2026, Korban Gempa Kota Bengkulu di Rafflesia Regensi terancam semakin lama tinggal di sisa-sisa puing.

Mereka juga berisiko berada di hunian sementara yang tidak layak, di tengah cuaca saat ini yang kian tidak menentu. (Red)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *