Solusi Jitu Pemkot Bengkulu Atasi Sampah Batok Kelapa, Ubah Sampah Jadi Rupiah

Satujuang.com – Untuk menyelesaikan permasalahan sampah Batok Kelapa yang ada dikawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu berencana akan membeli mesin bubut penghancur batok kelapa.

Hal tersebut dasampaikan oleh wakil walikota Bengkulu Dedy Wahyudi saat menghadiri acara rapat koordinasi (rakor) dan pengarahan dalam rangka penerapan program Merdeka Belajar Merdeka Sampah, di ruang Hidayah kantor walikota Bengkulu, Selasa (2/2/21).

Hadir dalam rakor tersebut Ketua TP2KB beserta seluruh anggota, mantan Gubernur Bengkulu Ust Junaidi Hamsyah, mantan rektor UMB, perwakilan dari TNI, ketua LPM Unib. Ketua LPM Unived, ketua LPM IAIN, Ketua PGRI provinsi, dan beberapa kepala OPD terkait di lingkungan Pemkot Bengkulu.

 

Disampaikan Dedy, saat ini Pemkot mempunyai solusi untuk menyelesaikannya, yaitu membuat mesin penghancur batok. Selain masalah sampah tersebut selesai, bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk yang bernilai ekonomi.

Baca Juga :  Resmi, Dedi Hariyanto Duduki Jabatan Waka I DPRD Lebong Menggantikan Teguh Raharjo

“Akhirnya kami berpikir salah satunya adalah harus dihancurkan dulu. Maka sekarang sedang dibuat mesin menghancur batok kelapa. Ketika bantok kelapa ini bisa dijadikan pupuk kompos, ini bisa bernilai ekonomi. Ini soal inovasi dan terobosan,” ujar Dedy.

Masih Dedy, dijelaskan bahwa anggaran untuk pembelian mesin pelebur atau penghancur tersebut ada di Dinas Lingkungan Hidup (LH).

“Kebetulan ada anggaran di LH untuk pengolahan sampah sistem diasapi atau menggunakan listrik. Awalnya kita ingin beli mesin untuk ngepress dan bakar sampah. Tapi menurut saya kita fokus bagaimana menyelesaikan sampah batok kelapa ini. Maka anggaran tadi tetap digunakan untuk pengelolaan sampah yakni dengan dibelikan mesin penghancur tadi,” jelas Dedy.

Baca Juga :  Walikota Helmi Hasan Tekankan dan Ajak Seluruh Stakeholder Mengentaskan Masalah Kemiskinan

Lebih lanjut Dedy menjelaskan, pengolahan batok kelapa itu nanti akan diubah dalam bentuk serbuk dan dirinya juga meminta kepada Lurah yang berada di daerah pesisir pantai untuk ikut melibatkan dan menggerakkan warganya dalam menjaga kebersihan.

 

“Nanti batok kelapa tersebut kita masukkan dalam mesin dan keluar sebagai serbuk yang bisa menjadi pupuk. Karena kalau tidak dihancurkan dengan mesin, bekas kelapa itu akan lama hancurnya dan menjadi tumpukan sampah. Saya juga minta lurah yang berada di pesisir pantai tolong libatkan dan gerakkan warganya untuk membersihkan sampah,” jelas Dedy.

Terkait dengan rakor tersebut, Dedy menjelaskan bahwa ia sudah mengikuti zoom meting dengan mendikbud diikuti seluruh gubernur, bupati dan walikota se-Indonesia. Pada intinya terkait dengan program Merdeka Belajar Merdeka Sampah, tidak hanya melibatkan perguruan tinggi saja namun juga termasuk siswa di sekolah dasar, SMP dan SMA.

Baca Juga :  Pansus Raperda BMA Kunjungi Rejang Lebong

“Kami pikir program ini hanya terfokus kepada perguruan tinggi saja ternyata juga termasuk ke sekolah dasar, menengah pertama dan menengah atas. Bagaimana kita menggali potensi anak didik, membangun kemampuan daya pikir dan tingkat partisipasi mereka dalam hal pembelajaran,” ujar Dedy.

Sambung Dedy, sebagai implementasi dan realisasi dari program Merdeka Sampah Merdeka Belajar, akan ada pertemuan kecil dengan masyarakat, juga ada edukasi pola door to door kepada masyarakat. (Mc)