Satujuang, Bengkulu– Satu bulan sejak Instruksi Presiden (Inpres) Percepatan Pembangunan Pulau Enggano diterbitkan, harga pisang masih anjlok.
Hingga Senin (21/7/25), harga pisang di Pulau Enggano hanya menyentuh Rp20 ribu per tandan dari harga normal Rp60 ribu.
“Masih anjlok karena belum ada kapal angkut hasil bumi. Warga pakai kapal nelayan,” kata Milson Kaitoroa, warga setempat.
Milson menilai tidak ada langkah nyata dari pemerintah untuk mendukung distribusi hasil bumi pasca-Inpres terbit.
Sementara KMP Pulo Tello baru direncanakan akan mulai membawa pisang pada Rabu, 24 Juli 2025 mendatang.
Disisi lain, Kepala ASDP Bengkulu, Radmiadi, menyebut sudah ada delapan truk pisang siap dibawa dari Enggano ke daratan.
Namun pengangkutan itu dinilai terlambat karena warga sudah lama menunggu kepastian akses logistik.
Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu, Fahmi Arisandi, menyebut lambannya respons pemerintah menunjukkan Inpres belum menyentuh akar persoalan.
“Ini bukti Inpres tak punya kejelasan prioritas. Rakyat butuh transportasi, bukan seremoni,” tegas Fahmi.
Fahmi mendesak pemerintah membuat rencana konkret yang disusun bersama masyarakat adat Enggano, bukan sepihak dari pusat.
Sebelumnya Masyarakat Adat Pulau Enggano bersama AMAN sempat merilis estimasi kerugian ekonomi yang mereka alami sejak Maret 2025, menyusul lumpuhnya distribusi hasil bumi akibat pendangkalan di Pelabuhan Pulau Baai, pada Sabtu (21/6) lalu.
Kondisi pelabuhan yang tidak bisa disandari kapal menyebabkan produk pertanian dan perikanan Enggano tidak dapat dikirim keluar pulau, memukul ekonomi lokal secara signifikan.
“Kami melakukan perhitungan bersama masyarakat adat dan kepala suku. Akibat pendangkalan pelabuhan, hasil bumi tidak bisa diangkut. Kerugian sekitar Rp2 miliar setiap bulan,” jelas Fahmi.
Rincian potensi ekonomi yang hilang tiap bulan menurut AMAN:
- Pisang: 320.000 tandan (672 ton) tak terjual. Harga Rp 40.000/tandan. Kerugian: Rp 1,15 miliar/bulan,
- Jantung pisang: 560 karung x Rp 60.000 Kerugian: Rp 33,5 juta,
- Daun pisang: 160 karung x Rp 50.000 Kerugian: Rp 8 juta,
- Ikan laut (32 ton): Umumnya kualitas ekspor Kerugian: Rp 640 juta,
- Melinjo (400 kg): Kerugian: Rp 20 juta,
- Kelapa (32 ton): Kerugian: Rp 72 juta,
- Kakao (500 kg): Kerugian: Rp 40 juta,
- Pinang (3,2 ton): Kerugian: Rp 25 juta.
“Perekonomian pulau benar-benar terhenti. Pemerintah daerah maupun pusat belum menunjukkan langkah konkret,” kata Fahmi saat itu. (Red)







