Satujuang, Sukoharjo – Ribuan buruh PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi kehilangan pekerjaan setelah perusahaan tekstil raksasa itu dinyatakan pailit. Per Sabtu, 1 Maret 2025, Sritex menutup seluruh operasionalnya.
Keputusan ini berdampak pada setidaknya 10.669 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kepailitan Sritex telah diputuskan sejak 21 Oktober 2024, menyusul krisis keuangan yang berkepanjangan dan kegagalan perusahaan dalam melunasi utangnya.
Kini, seluruh aset perusahaan berada di bawah kendali kurator yang bertugas melelang aset demi menyelesaikan kewajiban finansial perusahaan.
Sebelumnya, pemerintah sempat menyatakan komitmennya untuk menyelamatkan Sritex dan memastikan buruh tetap bekerja.
Namun, janji itu kini berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, sebelumnya berjanji bahwa pemerintah akan berusaha menghindari PHK massal, namun hasilnya berkata lain.
Hari Terakhir di Sritex
Pada Jumat, 28 Februari 2025, menjadi hari terakhir bagi ribuan buruh di pabrik Sritex. Suasana haru menyelimuti para pekerja yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini.
Beberapa di antara mereka terlihat menandatangani seragam kerja sebagai kenang-kenangan, sementara yang lain saling berpamitan dengan mata berkaca-kaca.
“Rasanya sedih sekali. Puluhan tahun saya bekerja di sini, tapi akhirnya harus berhenti begini,” kata Sutinah, salah satu pekerja Sritex yang terkena PHK, Sabtu (1/3/25).
Anto, yang juga pekerja di perusahaan tersebut mengungkapkan, Banyak dari mereka yang kini kebingungan mencari nafkah, terutama karena keputusan PHK datang di saat ekonomi sedang sulit dan menjelang bulan Ramadan.
“Denger ada PHK saja sudah bikin hati sakit, keluarga ikut menangis. Anak-anak masih sekolah, saya bingung harus bagaimana,” ujar Anto.
Pesangon masih tak pasti hingga saat ini, ribuan buruh yang terdampak PHK masih belum mendapatkan pesangon.
Anto menambahkan, Proses perhitungan hak-hak karyawan masih dalam tahap penanganan oleh kurator. Para buruh berharap pemerintah bisa turun tangan untuk memastikan hak-hak mereka tetap dipenuhi.
“Setidaknya, kami berharap ada kepastian soal pesangon ini. Jangan sampai kami tidak mendapatkan hak kami setelah bertahun-tahun bekerja,” pungkasnya.
Nasib ribuan buruh kini menggantung di tengah ketidakpastian ekonomi. Industri tekstil yang semakin terpuruk membuat peluang kerja di sektor ini semakin sulit.
Kini, banyak buruh Sritex yang hanya bisa berharap pemerintah benar-benar memperjuangkan nasib mereka, bukan sekadar mengumbar janji tanpa realisasi. (A.T)











