Satujuang, Bengkulu– Potret buram pendidikan di wilayah terpencil kembali mencuat. Belasan siswa SD Negeri 178 di Desa Pagar Agung, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, terpaksa belajar di bawah pohon dan rumah dinas guru.
Mereka terpaksa karena ruang kelas mengalami kerusakan parah, bukan untuk membuat konten apalagi potret sebagai bentuk sebuah pencitraan.
Kepala SD Negeri 178, Yudi Wahyu Hidayat, mengatakan kondisi bangunan sekolah telah rusak sejak lama.
Tiga ruang kelas mengalami kerusakan sejak tahun 2007, dan semakin memburuk dalam lima tahun terakhir hingga akhirnya dinding salah satu ruang kelas roboh tiga pekan lalu.
“Sejak lima tahun lalu, kami tetap belajar di ruang kelas meski kondisi sudah rusak. Tapi karena dindingnya akhirnya roboh, siswa terpaksa belajar di bawah pohon dan rumah dinas guru,” ujar Yudi saat dihubungi, Rabu (25/6/25).
Sekolah yang hanya memiliki 15 siswa ini sempat diusulkan untuk digabung dengan sekolah terdekat di Desa Muara Simpur yang berjarak sekitar dua kilometer.
Namun, penggabungan tersebut batal karena siswa harus melintasi jembatan gantung sepanjang 100 meter yang dianggap membahayakan.
“Orang tua siswa tidak berani melepas anak-anak melintasi jembatan gantung, apalagi saat hujan dan banjir,” jelas Yudi.
Selama hampir satu dekade menjadi kepala sekolah, Yudi mengaku rutin mengajukan proposal perbaikan bangunan sekolah.
Namun, setiap usulan tersebut selalu kandas di meja DPRD dengan alasan jumlah siswa yang terlalu sedikit.
“Setiap tahun kami ajukan rehab, tapi selalu dicoret DPRD. Alasan mereka karena siswanya hanya sedikit,” keluh Yudi.
Ia menyayangkan keputusan DPRD yang dinilainya tidak berpihak pada pemerataan akses pendidikan.
Jika perbaikan gedung dianggap tidak layak karena jumlah siswa, Yudi menyarankan agar pemerintah membangun jembatan permanen agar siswa bisa dipindahkan ke sekolah lain yang lebih layak.
Baru-baru ini, Kepala Dinas Pendidikan yang baru dilantik mengunjungi langsung SDN 178.
Dalam kunjungan tersebut, pihak sekolah kembali menyampaikan usulan perbaikan dengan harapan segera mendapat respons.
Saat ini, SDN 178 memiliki tujuh orang guru dan satu kepala sekolah. Meski menghadapi keterbatasan fasilitas dan minim perhatian pemerintah, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan semangat tinggi. (Fr/Red)






