Satujuang.com – Gajah Mada dikenal dengan nama lain Jirnnodhara dikisahkan adalah seorang panglima perang dan mahapatih yang merupakan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit.
Menurut berbagai sumber puisi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih.
Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.
Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara.
Banyak masyarakat Indonesia masa sekarang yang menganggapnya sebagai pahlawan dan simbol nasionalisme Indonesia dan persatuan Nusantara.
Seperti kemunculannya, kematian Gajah Mada pun menghadirkan teka-teki.
Disebutkan dalam kitab Kakawin Nagarakretagama, sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, dia menjumpai Gajah Mada telah sakit.
Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi karena sakit.
Sementara versi lain menyebut bahwa Gajah Mada moksa atau menghilang. Ini seperti yang tertulis dalam Kidung Sunda Pupuh ke tiga atau Sinom.
Dihimpun dari berbagai sumber, disebutkan ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai makam Gajah Mada.
Mengutip Lampung.co, lokasi pertama, di Provinsi Lampung di Pekon Kerbang Langgar, Kecamatan Pesisir Utara.
Disebutkan, Bupati Pesisir Barat, Agus Istiqlal telah mendatangi langsung makam Gadjah Mada dan ahli waris di Pekon Negeri Ratu.
Pada kesempatan itu, Buptai bertemu langsung dengan ahli waris beserta melihat bukti peninggalan sang patih Kerajaan Majapahit.
Ia bahkan berencana memugar makam yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Mahapatih Gadjah Mada atau makam Gajah Mada tersebut.
Tempat berikutnya dipetik dari tagar.id, beberapa daerah juga mempercayai Gajah Mada dimakamkan di daerahnya masing-masing.
Menurut keyakinan masyarakat Desa Padende, Donggo, Bima, Nusa Tenggara Barat, Situs Wadu Nocu adalah makam Gajah Mada. Keyakinan ini diungkapkan secara turun temurun oleh penjaga makam setempat.
Lalu di Selaparang, Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat makam yang juga dipercayai sebagai makam Gajah Mada. Bentuk makamnya seperti sumur bundar dengan susunan batu sungai berukuran sedang yang tertata rapi tanpa tulisan apapun.
Selanjutnya, masyarakat Tuban, Jawa Timur juga mengklaim bahwa Gajah Mada dimakamkan di daerah mereka, tepatnya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Makam ini dikenal dengan nama Makam Barat Ketiga.
Kemudian Warga pesisir pantai antara Pelabuhan Sempo Liya dan Pulau Simpora, tepatnya di Kampung Mada, Desa Matiri, Batauga, Kepulauan Wangi-wangi, Buton, Sulawesi Tenggara juga mengklaim keberadaan makam Gajah Mada.
Untuk lokasi yang berikutnya, mengutip jabar.nu.or.id, disebutkan tempat peristirahatan terakhir Gajah Mada ada di Bengkulu.
Menurut kisah yang diceritakan H Avi Taufik Hidayat yang merupakan putra dari Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (1999-2001) H Jaelani Hidayat.
Disebutkan, makam Gajah Mada diyakini ada di Bengkulu, dan merupakan seorang muslim.
Diawali saat Avi mendapatkan tugas dan tantangan dari Gus Dur untuk menemukan makam Gajah Mada dan Raden Wijaya.
Dikisahkan Avi, ketika ia mengantar Pengurus Wilayah NU Jawa Barat untuk menemui Gus Dur di Gedung PBNU di Jakarta, Tiba-tiba secara spontan Gus Dur bertanya.
“Avi, kamu tahu nggak kalau Gajah Mada dengan Raden Wijaya itu Muslim” tanya Gus Dur.
“Wah masa, Gus” tanya Avi keheranan.
“Benar, Gajah Mada itu muslim. Ada kuburannya di perbatasan Bengkulu,” jawab Gus Dur.
“Oh gitu ya, Gus,” jawab Avi masih, merasa kebingungan.
“Iya, saya juga mau ke sana, tapi kamu dulu yang harus ke sana. Kamu lewat jalan selatan, jangan jalan tengah,” kata Gus Dur
Singkat cerita, Avi akhirnya berangkat bersama dengan Kiai Fakih Limbangan, seorang santri dan kakak iparnya. Mereka berangkat dari Bandung.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, sampailah mereka di perbatasan Bengkulu. Tapi hari sudah larut malam.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat menginap agar bisa segera beristirahat untuk melajutkan perjalanan esok hari.
Mereka melihat rumah-rumah penduduk di sekitar perbatasan itu dan diputuskanlah untuk menginap di salah satu rumah warga di situ.
Di luar dugaan, pemilik rumah yang mereka tempati untuk menginap ternyata masih keturunan Gajah Mada.
Mereka mengetahui ini setelah berbincang dengan si pemilik rumah dan menyampaikan maksud tujuannya untuk pergi ke Bengkulu.
Keesokan harinya, mereka diantar untuk ke makam Gajah Mada dan Raden Wijaya. Ternyata memang benar ada makam tersebut, bentuknya bulat tidak seperti makam umum di zaman sekarang.
Hanya dikelilingi dengan batu-batu dengan ukuran yang agak besar. Ada satu batu berdiri di tengahnya sebagai nisan tetapi tidak tertulis keterangan nama dan tahun meninggal.
Setelah berziarah dan berdo’a, mereka pulang untuk melaporkan kejadian ini kepada Gus Dur.
Namun tidak dijelaskan secara pasti di mana lokasi tersebut, apakah perbatasan Bengkulu-Lampung ataukah Bengkulu-Sumatera Selatan.
Sumber lain menyebutkan makam tersebut terletak di perbatasan Bengkulu-Sumatera Selatan. (Red)











