Dugaan Asusila di OPD Kabupaten Benteng, Ayah Korban : Sudah Banyak Pihak Yang Siap Dampingi Kami

Perkiraan Waktu Baca: 3 menit

Satujuang.com – Laporan atas dugaan aksi pelecehan asusila terhadap salah seorang pegawai tidak tetap (PTT) Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) saat ini masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan pihak Kepolisian.

Dugaan aksi pelecehan asusila tersebut diduga terjadi disalah satu kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Bengkulu Tengah. Dalam ruangan kerja salah seorang Kepala Bidang di dinas tersebut.

Menurut keterangan dari orang tua korban, saat ini pihak mereka masih menunggu hasil pemeriksaan oleh pihak Polres Bengkulu Tengah.

“Masih tahap pemeriksaan dan penyidikan, kita mau lihat dulu sejauh mana pihak Polisi bisa menyelesaikan kasus ini,” ujar Ayah korban melalui pesan WhatsApp, Minggu (12/9/21).

Ayah korban juga mengatakan kemungkinan mereka juga akan mengadukan perihal dugaan pelecehan yang dialami anaknya kepihak Komnas Perempuan.

“Sangat mungkin, dan sudah banyak pihak yang sudah siap untuk mendampingi kita,” tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang honorer atau di salah satu OPD dilingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) Benteng insial N (20) warga Kecamatan Pondok Kelapa mengaku menjadi korban pelecehan berupa perbuatan asusila.

Dalam pengakuannya perbuatan tak senonoh tersebut diduga dilakukan oleh salah seorang pejabat eselon III, yang saat ini menjabat sebagai kabid dan merupakan atasannya di OPD tersebut, inisial H.

Diceritakan N, kronologis perbuatan pelecehan yang dialaminya pada hari terebut terjadi pada hari Senin minggu lalu. Pada saat korban sedang menemui pelaku di ruangannya dengan maksud meminta tanda tangan.

Dalam suasana kantor memang sedang sepi, oknum kabid Inisial H langsung melancarkan aksinya dengan memegang dibagian area sensitif inisial N. Setelah itu, H langsung mengeluarkan uang sebesar Rp 50 ribu langsung di berikan kepada pegawai PTT inisial N.

“Setelah melakukan tindakan asusila, inisial H memberikan uang kepada saya sebesar Rp 50 ribu, ” ungkap N

“Awalnya, saya merasa takut dan hanya memendam apa yang saya alami. Namun, karena saya tidak mengambil tindakan, kejadian tak senonoh ini tak hanya terjadi sekali, tapi ia terus melakukan perbuatan seperti itu,” Terang N.

Berselang 2 hari kemudian, atasan nya itu kembali melancarkan aksinya.pada saat suasana kantor sedang sepi, oknum kabid tersebut menghampiri N dan menanyakan kenapa tak membalas pesan singkatnya melalui chat di WhatsApp.

Merasa trauma dan terancam melihat perbuatan H, lalu kemudian N langsung berlari ke toilet kantor untuk menenangkan diri. Hanya saja, H kembali menghampiri N dan memegang tangannya.

“Setelah dia memegang tangan saya, saya langsung berlari dan bercerita dengan teman sesama honorer di kantor. Saya juga tidak terima atas perbuatan H itu, makanya saya melapor ke Polres,dan saya berharap supaya kasus ini diproses hukum,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *