Bengkulu – Industri Kecil Menengah (IKM) Krupuk Tuiri asal Provinsi Bengkulu berhasil mendapatkan penghargaan sebagai IKM dengan Kinerja Terbaik selama mengikuti Program Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (DAPATI).
Penyerahan penghargaan dikemas pada acara Kick Off Program DAPATI dengan tema “Growing Together, Growing Stronger” secara hybrid (offline dan online) di Bandung pada 29 Maret 2022 lalu.
Ada 10 Industri Kecil Menengah (IKM) yang mendapatkan penghargaan, salah satunya IKM CV. Jaya Rasa Bengkulu dengan Produk Krupuk Tuiri.
Acara dibuka langsung oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia Dr Agus Gumiwang Kartasasmita M.Si.
Ada tiga kategori penghargaan, yang pertama penghargaan penyedia jasa konsultasi terbaik tingkat balai besar dan baristan, penghargaan video dokumenter terbaik, dan penghargaan IKM dengan kinerja terbaik pada pelaksanaan program DAPATI 2021.
“Program ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi IKM di seluruh wilayah Indonesia, dan tentunya harapan kita bersama akan semakin besar dan banyak IKM yang akan difasilitasi ke depan,” sampai Dr Agus.
Menteri Perindustrian sangat mengapresiasi program DAPATI yang dikembangkan oleh Kementerian Perindustrian melalui Badan Standarisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) ini.
“Program ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah (IKM) dalam pengembangan dan penerapan teknologi industri sehingga IKM dapat meningkatkan efisiensi, produktifitas, nilai tambah, daya saing dan kemandiriannya,” ujarnya.
IKM Krupuk Tuiri yang merupakan salah satu produk inovasi berbahan baku Tulang Ikan Tenggiri juga merupakan binaan dari Bank Indonesia Bengkulu.
Mereka menerima program DAPATI dari Kementerian Perindustrian melalui Balai Besar Pelayanan Jasa Industri Agro pada tahun 2021.
“Program yang mereka dapatkan ini yaitu Pendampingan untuk mendapatkan sertifkat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) atau suatu sistem jaminan mutu untuk mengontrol bahaya-bahaya yang dapat timbul berbagai titik atau tahap produksi tertentu yang nantinya juga bisa dipakai untuk izin ekspor,” ujar ketua team pendamping dari BBIA, Fitri Hasanah S.TP, M.Si.
Program pendampingan dilakukan di tempat produksi Krupuk Tuiri selama 6 bulan, pendampingan yang diberikan berupa implementasi sistem mutu dan penyusunan dokumen CPPOB/GMP dan HACCP.
Pendampingan perbaikan proses produksi, Analisa produk (analisa gizi, kimia, mikroba dan masa kadaluarsa produk) dengan tujuan akhir IKM Krupuk Tuiri bisa mendapatkan sertifkat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).
“Alhamdulillah sertifkat HACCP kita sudah keluar di bulan Maret ini, setelah 6 bulan proses pembelajaran, perbaikan dan pendampingan yang dilakukan pada bulan Juni – November 2021 yang lalu,” sampai owner Krupuk Tuiri, Rofiq dalam keterangannya. (**)






