Satujuang, Blitar- Petugas Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar mengikuti pelatihan deteksi dini hotspot kebakaran hutan.
Pelatihan ini berlangsung di Kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Senin (30/3/26).
Segenap Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) BKPH Campurdarat melaksanakan pelatihan deteksi dini titik api.
Mereka memanfaatkan data satelit dari Sistem Informasi Deteksi Kebakaran Hutan (SiPongi).
Pelatihan diberikan oleh Asper BKPH Campurdarat Nur Fais, bertempat di kantor BKPH menggunakan ponsel dengan metode simulasi langsung.
Asper BKPH Campurdarat Nur Fais, yang mewakili Administratur KKPH Blitar, menjelaskan bahwa SiPongi adalah sistem informasi deteksi kebakaran hutan berbasis web milik Kementerian Kehutanan.
Sistem ini mendapatkan informasi titik api dari satelit milik NASA, LAPAN, dan BMKG.
“Titik api pada SiPongi dapat menampilkan koordinat sehingga petugas dapat melakukan penanggulangan karhutla dengan lebih efektif,” ujar Nur Fais.
Nur Fais menambahkan, segenap KRPH dilatih untuk mengambil data koordinat Universal Transverse Mercator (UTM) di SiPongi.
Data tersebut kemudian dipindahkan ke Google Maps, memungkinkan petugas menuju titik api menggunakan fitur rute tercepat.
“Selain itu, KRPH juga dilatih untuk mengirimkan data lokasi (shareloc) dari data mentah ke Grup WhatsApp, sehingga mempercepat respons dan memudahkan penyebaran informasi,” tandasnya.
Menurut Nur Fais, BMKG memprediksi peluang terjadinya El Nino “Godzilla” atau cuaca panas ekstrem sepanjang sisa Tahun 2026.
Kondisi ini menyebabkan kekeringan dan potensi kebakaran hutan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama di wilayah Jawa Timur.
“Jadi pelatihan ini penting untuk menyiapkan petugas pengamanan hutan agar proses mitigasi penanganan kebakaran hutan dan lahan lebih efektif khususnya di kawasan hutan Perhutani,” pungkas Nur Fais. (Herlina)











