Puluhan Dapur MBG di Bengkulu Disegel: Upah Belum Dibayar, Istri Meninggal Pekerja Tak Bisa Pulang

Satujuang, Seluma- Puluhan Dapur MBG di Bengkulu Disegel oleh ratusan pekerja bangunan yang menuntut pembayaran upah mereka menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Aksi penyegelan ini mencakup 25 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Provinsi Bengkulu yang progres pembangunannya telah mencapai sekitar 80 persen.

Para pekerja menutup akses bangunan sebagai bentuk protes terhadap pihak pelaksana proyek yang hingga kini belum merealisasikan pembayaran upah mereka.

Koordinator mandor pekerja, Ahmad Yani (52) menyatakan, sekitar 200 pekerja bangunan, sebagian besar didatangkan dari Pulau Jawa, terlibat dalam aksi ini.

“Kalau di Seluma ada dua unit, di Bengkulu Selatan dua unit, dan di Kaur tiga unit,” ujar Ahmad Yani.

Para pekerja telah menggarap pembangunan dapur MBG tersebut selama kurang lebih empat minggu tanpa menerima upah.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi mereka yang berencana pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga.

Total tagihan upah pekerja mencapai sekitar Rp3 miliar.

Namun, para pekerja hanya mengajukan pembayaran sebesar Rp1,7 miliar kepada perusahaan sebagai kebutuhan mendesak untuk biaya pulang kampung.

“Apa yang mau kami bawa pulang untuk keluarga nanti,” ujar Ahmad Yani, mengungkapkan kepedihan para pekerja.

Penyegelan ini juga menjadi bentuk kekecewaan dan permintaan kepastian dari pihak perusahaan terkait pembayaran upah yang tertunda.

Mereka menyatakan siap membuka kembali segel bangunan dan melanjutkan pekerjaan apabila pembayaran upah direalisasikan.

Sementara itu, kontraktor pelaksana proyek PT Adi Karya diketahui telah menyiapkan fasilitas transportasi berupa bus Putra Rafflesia untuk kepulangan pekerja ke Pulau Jawa.

Namun, para pekerja memilih bertahan di Bengkulu, menolak pulang sebelum hak-hak mereka dibayarkan.

Bahkan, salah seorang pekerja tidak dapat pulang ke rumah saat sang istri meninggal dunia karena tidak memiliki ongkos perjalanan akibat upah yang belum dibayarkan.

“Bapak itu kasihan lihatnya, istrinya meninggal tak bisa pulang karena gaji belum dibayar,” ujar salah satu pekerja, menggambarkan kesedihan mendalam.

Hingga kini, para pekerja masih menanti kejelasan dari pihak perusahaan di tengah kebutuhan keluarga yang mendesak menjelang Idul Fitri. (da)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *