Pak Sahid Coffee Jelaskan Kearifan Lokal Kopi Bengkulu Jawaban Standarisasi Eropa

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Tangerang- Pak Sahid Coffee dari Bengkulu tampil di Trade Expo Indonesia 2025 yang digelar di ICE BSD Tangerang, 15-19 Oktober. Mereka mengenalkan kopi unik Desa Batu Bandung, menonjolkan sistem budidaya tradisional atau kearifan lokal.

Adi Sahid, founder Pak Sahid Coffee, melihat kesempatan besar ini. Ia ingin mengenalkan kopi-kopi Provinsi Bengkulu ke panggung nasional dan global.

“Apalagi acara ini adalah kegiatan pameran yang berskala internasional,” jelasnya, dalam rilis yang diterima Satujuang pada Jumat (24/10/25).

Dalam sesi seminar, Pak Sahid Coffee menjadi narasumber utama. Ia memaparkan kopi proses unik dari Desa Batu Bandung yang mencerminkan budaya daerah lestari.

Beberapa desa, seperti Batu Bandung, masih menerapkan sistem penanaman kopi turun-temurun. Praktik ini secara alami menjaga keseimbangan lingkungan, meskipun tidak tercatat.

Kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) menjadi perhatian global. Uni Eropa menuntut produk kopi memenuhi kaidah deforestasi dan kelestarian lingkungan untuk pasar Eropa.

Adi Sahid merasa sistem perkebunan leluhur mereka telah memberikan jawaban.

“Metode tradisional ini menjaga keseimbangan alam dan menghindari deforestasi, selaras tuntutan EUDR,” paparnya.

Adi Sahid tidak merasa cemas dengan regulasi baru tersebut. Ia menyimpulkan sistem berkebun tradisional ini bisa menjadi jawaban terhadap EUDR.

“Selain menjaga budaya lokal, sistem ini penting untuk kelestarian lingkungan. Ini merupakan warisan berharga yang terus kami lestarikan,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *