Terkait Penyegelan Kantor Kelurahan, Ini Kata Lurah Sumur Meleleh

Perkiraan Waktu Baca: 3 menit

Satujuang, Bengkulu — Lurah Sumur Meleleh, Martiyeni, mengklarifikasi bahwa penyegelan Kantor Kelurahan yang dilakukan oleh Ketua Adat, Ketua RT, RW, dan Linmas pada Senin malam (21/7) terjadi akibat miskomunikasi.

“Penyegelan terjadi karena miskomunikasi saja, dan tadi pagi juga sudah diselesaikan bersama Bapak Asisten I, Kabag Pemerintahan, Camat Teluk Segara, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta para RT dan RW,” ujar Martiyeni, Selasa (22/7/25).

Ia menegaskan bahwa permasalahan telah diselesaikan secara kekeluargaan melalui mediasi dan silaturahmi antar pihak terkait.

“Kami sudah duduk bersama, bermediasi, dan kembali bersilaturahmi. Alhamdulillah, semuanya sudah selesai,” tambahnya.

Martiyeni menjelaskan bahwa penyegelan dipicu oleh rasa kurang dilibatkan yang dirasakan oleh perangkat RT/RW dan tokoh masyarakat dalam kegiatan kelurahan.

Menurutnya, hal tersebut menjadi evaluasi penting ke depan. Akan kembali kompak, bersatu memperbaiki hal-hal yang selama ini mungkin belum dilakukan secara optimal.

Ia juga mengakui bahwa komunikasi antara kelurahan dan para perangkat RT/RW belakangan ini mulai jarang terjalin karena kesibukan masing-masing.

Hubungan kekeluargaan yang sudah terbentuk membuat sebagian komunikasi formal menjadi terabaikan.

“Karena merasa sudah seperti keluarga, kami pikir cukup say helo saja. Tapi ke depan kami akan perbaiki. Akan ada rapat rutin dan pertemuan untuk membahas setiap persoalan yang ada di kelurahan,” terangnya.

Martiyeni juga menambahkan bahwa penyegelan berlangsung singkat dan tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat.

Sekitar pukul 07.30 pagi tadi, kantor sudah kembali dibuka karena ada kegiatan penyaluran bantuan beras dari Bulog untuk warga kurang mampu.

“Penyegelan hanya berlangsung sebentar, tadi malam sekitar pukul 10, dan pagi tadi sudah dibuka kembali. Alhamdulillah, aktivitas pelayanan tetap berjalan normal,” pungkasnya.

Seperti diketahui, suasana di Kelurahan Sumur Meleleh sempat memanas dengan berujung penyegelan kantor kelurahan setempat oleh para tokoh masyarakat.

Aksi itu merupakan bentuk protes atas sikap pihak kelurahan yang dinilai arogan, tidak transparan, dan kerap mengabaikan peran struktural RT dan RW dalam pemerintahan tingkat bawah.

“Terpaksa kami dari pihak ketua adat, RT, RW dan Linmas menutup sementara kantor lurah Sumur Meleleh,” kata Ketua RW 2, Mulyadi Mandai, kepada Satujuang Senin (21/7).

Mulyadi menyebut bahwa pihak kelurahan selama ini terkesan menganggap keberadaan RT dan RW tidak penting.

Mereka jarang dilibatkan dalam kegiatan resmi, termasuk sosialisasi dan program kelurahan.

“Terkadang tiba-tiba masyarakat lebih tahu dibanding kami RT dan RW,” ujarnya kesal.

Ia menambahkan, keresahan terhadap pola komunikasi dan koordinasi kelurahan sebenarnya sudah lama mereka dirasakan dan pendam.

Namun malam ini, menurutnya, kesabaran warga yang menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat itu sudah habis.

“Giliran gotong royong, kami selalu diminta terlibat aktif, sementara mereka jarang terlihat hadir apalagi mau membantu. Kesabaran kami sudah cukup,” tegas Mulyadi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *