Satujuang, Bengkulu- Fakta mengejutkan, pihak PU Provinsi Bengkulu mengungkapkan bahwa sejumlah rumah roboh saat bencana gempa M 6,3 di Bengkulu ternyata tidak memiliki pondasi.
Hal ini terungkap saat penyerahan bantuan dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) Bengkulu senilai Rp270 juta kepada Plt Sekretaris Daerah (Sekda), Herwan Antoni, di kantor Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Jumat (30/5/25) kemarin.
Saat berjalannya pembicaraan antara pihak PU, Sekda dan ketua PSMTI, [NAMA BENAR], terkait perkiraan biaya pembangunan rumah yang roboh terungkap bahwa sebagian besar rumah tidak ada pondasi.
“Kita juga ingin memanfaatkan pondasi lama. Namun, sebagian besar yang dibangun sama yang lama gak ada pondasi,” ungkap pihak PU dalam pertemuan tersebut.
Dengan kondisi tersebut pihak PU menyebut, mereka harus memberikan perlakuan khusus terhadap rumah yang ada di RT 50 itu dibanding rumah lainnya.
Mereka akan menggunakan cerucuk, dan memastikan biaya pembangunan rumah korban di perumahan Rafflesia Asri kelurahan Betungan tersebut cukup sebesar Rp 45 juta per unitnya saja di luar tumah yang berdiri di atas tanah rawa.
“Sekarang kan kita baru fokus di RT 50 yang banyak rumah yang rusak berat, sudah 7 rumah yang kita robohkan rata-rata seperti itu kondisinya,” imbuhnya.
Menyikapi informasi tersebut, Plt Sekda Herwan Antoni sepakat dengan harus adanya perhitungan yang tepat, mengacu pengalaman penanganan rumah roboh yang pernah terjadi di Kabupaten Bengkulu Tengah belum lama ini.
Pembangunan rumah di Bengkulu sudah semestinya menggunakan struktur tahan gempa, karena Bengkulu merupakan daerah rawan gempa. (Red)






