Satujuang, Bengkulu– Fakta baru terungkap dalam kisruh penerimaan siswa baru di SMAN 5 Kota Bengkulu. Sebanyak 72 siswa dinyatakan dikeluarkan, 30 di antaranya sudah pindah ke sekolah lain, sementara 42 siswa masih bertahan dan menolak keluar.
Lebih mengejutkan, terdapat 98 nama siswa baru yang sebenarnya diterima namun tidak diumumkan bersamaan dengan 334 siswa lainnya.
Hal ini dibenarkan langsung oleh Kepala SMAN 5, Bihanudin, usai pertemuan dengan orang tua siswa, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Bengkulu, serta Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu pada Rabu (20/8/25).
“Jadi yang 98 itu selisihnya. Kita sudah lapor ke dinas, ada kuota yang tidak terisi, dan sekarang sedang kita diskusikan,” ujar Bihanudin.
Berdasarkan data, SMAN 5 memiliki 12 ruang untuk siswa baru. Jika setiap kelas menampung 36 siswa, maka total kuota seharusnya 432 orang.
Namun, yang diumumkan hanya 334 siswa, sementara 98 nama lainnya diketahui tidak diumumkan secara resmi.
Menurut Bihanudin, 98 siswa tersebut sebenarnya sudah memiliki daftar penerimaan, berbeda dengan 72 siswa yang belakangan dinyatakan dikeluarkan.
“Soal 42 siswa yang tetap bertahan, kami tidak tahu harus berbuat apa. Ya mau bagaimana lagi, resikonya ada pada anak. Anak yang rugi,” jelasnya.
Bihanudin juga mengaku tidak mengetahui dari jalur mana 72 siswa yang dikeluarkan itu bisa masuk ke SMAN 5.
“Kalau jalur resmi ada empat, tapi para siswa ini tidak jelas dari mana. Makanya penerimaan jadi kacau. Kami akan telusuri pihak-pihak yang terlibat,” tegasnya.
Disisi lain, Plh Kepala Disdikbud Provinsi Bengkulu, Salmi, menegaskan pemerintah akan memastikan seluruh siswa yang dikeluarkan oleh SMAN 5 tersebut tetap bersekolah.
“Intinya anak-anak itu harus semuanya sekolah. Yang tidak bisa di SMAN 5 akan didistribusikan ke sekolah lain, seperti SMAN 9 atau SMAN 12, sesuai aturan yang berlaku. Kalau satu kelas sudah 36 siswa, ya tidak bisa dipaksakan,” tegas Salmi.
Namun, saat disinggung soal dugaan adanya oknum yang “bermain” sehingga 72 siswa bisa bersekolah meski tak terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Salmi enggan berkomentar.
“Saya tidak berani komen,” katanya singkat, lalu berlalu meninggalkan wartawan. (Red)











