Warga Desa Penyangga dan Pemerintah Seluma Dukung Penambangan Emas PT ESDMu

Satujuang, Bengkulu— Dukungan terhadap rencana penambangan emas oleh PT Energi Swa Dinamika Muda (ESDMu) di Kabupaten Seluma terus mengalir.

Pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat sekitar menyatakan kesiapan mendukung kegiatan tambang yang dinilai membawa manfaat ekonomi besar bagi daerah dan warga sekitar.

Direktur PT ESDMu, Herman Hidayat, menjelaskan potensi cadangan emas di wilayah tersebut mencapai 7 juta ons atau setara 217 ton emas murni, menjadikannya salah satu sumber daya tambang terbesar di Indonesia.

“Eksplorasi dan persiapan tambang berlangsung sekitar 1,5 tahun, dengan target mulai produksi pada 2028 hingga 2029,” kata Herman dalam diskusi terbuka di salah satu hotel di Kota Bengkulu, Sabtu (11/10/25) malam.

Herman menegaskan, penambangan akan dilakukan dengan metode underground (bawah tanah), bukan tambang terbuka, untuk meminimalkan kerusakan lingkungan.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan, mereka juga menjanin akan menjaga kelestarian hutan di atas area tambang serta melindungi keanekaragaman hayati sekitar.

“Tambang bawah tanah jauh lebih ramah lingkungan. Hutan di atasnya tetap terjaga, dan kami siapkan program konservasi sebagai bentuk tanggung jawab ekologis,” tegasnya.

Selain menjaga lingkungan, perusahaan akan fokus pada pemberdayaan masyarakat lokal. Pada tahap awal, tambang akan menyerap 1.000 tenaga kerja, dan meningkat hingga 3.000 orang saat produksi penuh. Sesuai aturan, 75 persen tenaga kerja berasal dari penduduk lokal.

Perusahaan juga melibatkan petani lingkar tambang untuk memenuhi kebutuhan pangan seperti beras, sayuran, dan daging.

Layanan katering akan diberdayakan dari kelompok ibu rumah tangga sekitar lokasi tambang agar manfaat ekonomi langsung dirasakan masyarakat.

“Tambang ini milik bersama. Kami ingin keberadaannya memberi nilai tambah untuk warga. Anggaran operasional kami mencapai Rp3 triliun per tahun, dengan program CSR dan pemberdayaan masyarakat (PPM) sebesar Rp150 miliar per tahun,” jelas Herman.

Selain itu, PT ESDMu akan membangun kompleks perkantoran dan mes karyawan di Seluma, serta mengembangkan pelatihan kerajinan emas bekerja sama dengan pengrajin dari Yogyakarta dan Bali.

Jika potensi tembaga terbukti, perusahaan juga menyiapkan pembangunan smelter dan industri turunan seperti pabrik kabel dan pipa.

Dukungan terhadap rencana investasi ini datang dari berbagai pihak. Bupati Seluma, Teddy Rahman, menilai kehadiran investor tambang membawa peluang besar bagi kemajuan daerah.

“Ada investor datang, tentu kita dukung. Tapi semua harus jelas, aturan, dampak, dan manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Teddy.

Ia menegaskan, penyusunan dokumen teknis dan perencanaan tambang harus melibatkan semua unsur masyarakat, mulai dari tokoh pemuda, kelompok tani, hingga pelaku usaha lokal.

Ketua DPRD Seluma, April Yones, juga menyatakan dukungan terhadap kegiatan tambang emas PT ESDMu. Menurutnya, kehadiran tambang akan berdampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan memperluas lapangan kerja.

“Investor datang untuk membangun daerah, tapi manfaatnya harus nyata bagi masyarakat. Kalau tidak, kami akan menyesuaikan dengan aspirasi warga,” ujarnya.

Sementara itu, sembilan desa penyangga di sekitar area tambang menyatakan dukungan. Kepala Desa Muara Nibung, Dodi Harjo S.Kom, mewakili delapan kepala desa lainnya menegaskan bahwa masyarakat siap bekerja sama selama perusahaan konsisten menjaga komitmen lingkungan.

“Kami mendukung penuh, tapi perusahaan harus tegas menjaga kelestarian hutan, kesehatan, dan pendidikan masyarakat,” kata Dodi.

Ia menambahkan, masyarakat berharap bisa terlibat langsung dalam aktivitas pertambangan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan bersama.

“Pihak perusahaan sudah menampung aspirasi warga, dan kami siap mendukung sepenuhnya,” tutupnya.

Diskusi publik ini dihadiri jajaran Pemerintah Provinsi Bengkulu, Pemkab Seluma, DPRD Provinsi dan Kabupaten, akademisi, praktisi hukum, ekonomi, dan lingkungan, serta tokoh masyarakat dan organisasi lokal.

Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, tercatat sebagai narasumber, namun tidak hadir dalam kegiatan tersebut. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *