UGM-PT LSAJ Kerja Sama Kelola 11 Ribu Hektar KHDTK untuk Program Gizi

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang- Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT Lembu Setia Abadi Jaya (LSAJ) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk mengelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) seluas 11 ribu hektar di Blora, Jawa Tengah, dan Ngawi, Jawa Timur.

Kerja sama ini bertujuan mendukung program makan bergizi gratis bagi anak sekolah yang menjadi andalan pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto, guna meningkatkan kualitas gizi nasional.

MoU tersebut ditandatangani oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dan CEO PT LSAJ, Arie Triyono, di Gedung Pusat UGM.

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyambut positif kerja sama ini sebagai upaya mengatasi tantangan ketahanan pangan, khususnya protein hewani, dan mendorong keterlibatan UGM dalam pengembangan riset dan inovasi bagi industri.

UGM akan segera membentuk tim ahli lintas disiplin dari bidang peternakan, pertanian, dan kehutanan untuk mendukung kolaborasi ini.

Ova menegaskan harapannya bahwa kerja sama ini akan memberikan manfaat signifikan bagi semua pihak.

PT LSAJ juga berkomitmen penuh untuk menyukseskan program makan bergizi gratis.

Arie Triyono menekankan bahwa LSAJ telah menjadi contoh bagi beberapa provinsi dalam tata kelola peternakan dari hulu hingga hilir dan berencana membangun asrama untuk mahasiswa dan peternak yang belajar di perusahaan tersebut.

PT LSAJ akan mengintegrasikan peternakan dengan lahan pertanian sekitar, melibatkan masyarakat dalam penyediaan pakan ternak seperti rumput umami, pakchong, dan odot. Arie optimistis kolaborasi ini akan meningkatkan pendapatan petani setempat.

Kerja sama ini mengadopsi pendekatan Agro Silvo Pastura, yang memadukan kehutanan dan peternakan.

Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Prof. Ali Agus, menjelaskan bahwa sinergi ini akan memaksimalkan lahan di Blora, yang dikenal memiliki populasi sapi terbesar di Jawa Tengah, guna mendukung program makan bergizi.

Dalam jangka pendek, program ini mencakup pembangunan fasilitas ternak dan produksi yang melibatkan masyarakat, sekaligus mendukung visi Kementerian Pertanian untuk menciptakan ekosistem peternakan yang berkelanjutan.(Red/rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *