Satujuang, Bengkulu- Aliansi Petani Kelapa Sawit Bengkulu (APKSB) menyebut bahwa penetapan harga 3143 cuma ngeprank rakyat dan membully perusahaan, termasuk mau memberikan sanksi kepada Perusahaan Kelapa Sawit (PKS).
“Pemberian sanksi itu tidak ada dasarnya tidak ada aturan, saya pikir itu cuma ngeprank rakyat dan membully perusahaan saja,” ungkap ketua Aliansi, Edi Mashuri.
Hal ini diungkapkan Edi saat aksi demo bersama sekitar 20-30 orang di depan kantor Gubernur Bengkulu yang digelar dari pukul 08.00 WIB
Para petani datang dengan membawa berbagai spanduk yang bertuliskan penagihan janji Gubernur atas sanksi terhadap perusahaan yang tidak taat ketetapan harga TBS sawit.
“Kami menuntut janji gubernur yang disampaikan Wakil Gubernur Bengkulu pak Mian, itu mau memberi sanksi perusahaan yang tidak taat harga tetapan,” ungkap Edi.
Karena harga penetapan terakhir yang ditetapkan oleh pemerintah melalui tim penetapan harga yaitu Rp3.143 per kilogram belum juga terealisasi.
Pada kenyataannya sudah sekitar 2 minggu terakhir sejak penyampaian wagub kepada petani soal sanksi, harganya masih di angka Rp 2.700 per kilogram saat ini.
“Selain itu, tugas pemerintah dalam tata kelola sawit adalah memfasilitasi terbentuknya kemitraan. Tanpa kemitraan daya tawar petani itu sangat lemah,” paparnya.
Dijabarkan Edi, Permentan 2013 hingga 2024 itu pesannya adalah kemitraan, dan itu yang belum dilaksanakan pemerintah Bengkulu hingga saat ini.
Ia juga menyebut sangat susah saat mau bertemu pejabat Bengkulu, bahkan dari H-10. Padahal mereka mau memberi saran, hingga demo begini pun tak juga ditanggapi.
“Beda kalau saya dari pabrik, pasti Gubernur cepat,” tukasnya.
Terkait aturan, Edi mengatakan, tidak mungkinlah sekelas Gubernur tidak paham, terindikasi ada kesengajaan kenapa tidak dilaksanakan.
“Gak mungkin gak paham ini sudah digaungkan sejak 2013 kok,” pungkasnya.
Para perwakilan demo akhirnya diundang untuk audiensi dengan Asisten II, RA Deni dan Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu M Rizon. Namun, audiensi ini diakhiri dengan aksi Walk Out para petani. (Red)






