Pameran Keris Pusaka di Pendopo Bupati Cirebon: Eksistensi Gaman Jawa Barat

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Cirebon — Pameran keris pusaka bertajuk “Eksistensi Gaman Jawa Barat” resmi dibuka di Pendopo Bupati Cirebon, Jumat (12/9/25).

Acara yang digelar dari tanggal 12 hingga 14 September tersebut diselenggarakan oleh paguyuban SAKETI (Seni Kreatif Tosan Aji) dan terbuka untuk umum.

Pameran menghadirkan ratusan koleksi keris dari berbagai penjuru Nusantara sekaligus menyuguhkan rangkaian program edukasi dan demonstrasi seni keris.

Pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan dari tahap tempa, pengukiran, hingga penyelesaian hulu keris memberi gambaran nyata tentang keterampilan dan nilai estetik pusaka Indonesia.

Ketua Paguyuban SAKETI, Gunawan WIBiksana, bersama tim penyelenggara yang terdiri dari Ketua Panitia Angga Merdeka serta Anggota Panitia Agus Rosi dan Egi Sumarhaedi menjadi motor utama acara.

Keberadaan maestro lokal Empu JennarLingga Nugraha menarik perhatian pengunjung saat menampilkan teknik tempa tradisional secara langsung.

Sementara itu, pengrajin ukir ternama Cirebon yang dikenal dengan nama Joker Art (Ato) menampilkan keterampilannya pada pembuatan dan ornamen hulu keris.

Dukungan resmi juga datang dari Kohin AR dan RMJP Sudarto mewakili Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia.

Dalam sambutannya, Gunawan menekankan bahwa pameran ini merupakan upaya aktif mempertahankan warisan budaya: menjaga agar tradisi pembuatan dan apresiasi terhadap tosan aji tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Ia mendorong keterlibatan generasi muda agar warisan tersebut tidak pudar.

Sebanyak 85 peserta terdaftar mengikuti pameran, membawa koleksi pusaka dari wilayah seperti Makassar, Lombok, hingga Jawa Timur.

Selain melihat koleksi, pengunjung juga diberikan kesempatan untuk membeli atau memesan keris pilihan langsung di lokasi pameran.

Pameran “Eksistensi Gaman Jawa Barat” tampil sebagai ruang apresiasi sekaligus pengingat bahwa keris lebih dari sekadar bendavia adalah karya seni, simbol filosofis, dan identitas budaya Nusantara yang perlu dilestarikan. (Ramadhan)