Dedi Mulyadi Bakal Tutup Tambang yang Berbahaya, Fokus Keselamatan dan Ekosistem

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bandung – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan keputusannya untuk menghentikan operasional sejumlah tambang di wilayahnya yang berisiko menimbulkan bencana dan merusak ekosistem.

Menurut Dedi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat telah melakukan pemetaan terhadap tambang-tambang yang menyalahi ketentuan lingkungan dan memiliki potensi bahaya tinggi.

Dari hasil verifikasi awal, terdapat sekitar 10 lokasi tambang besar yang akan ditutup.

“Kami sudah mengidentifikasi tambang-tambang yang berpotensi bencana dan merusak lingkungan. Sekitar 10 tambang besar akan dihentikan operasionalnya,” kata Dedi, Senin (2/6/25)

Ketika ditanya mengenai keberadaan tambang di Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Dedi mengiyakan bahwa itu termasuk salah satu tambang yang akan ditutup.

Selain menutup tambang, Gubernur juga meminta Perum Perhutani untuk menghentikan kerja sama operasi (KSO) pertambangan di area hutan.

“Perhutani harus segera mengembalikan fungsi hutan sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Keputusan penutupan ini diambil menyusul insiden longsor di area tambang galian C Gunung Kuda, Kabupaten Cirebon, pada akhir Mei 2025 yang menewaskan belasan penambang.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi menginstruksikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat beserta tim untuk menutup tambang tersebut secara permanen.

“Saya telah memerintahkan agar tambang itu ditutup selamanya,” ucapnya, Jumat (30/5)

Kejadian tragis itu bermula ketika para penambang yang tertimbun longsor ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia, sementara korban lainnya hingga kini masih dalam pencarian tim SAR gabungan.

Dedi mengungkapkan, sebelum menjabat sebagai Gubernur, ia sempat meninjau lokasi tambang tersebut dan menilai bahwa sarana keselamatan kerjanya tidak memenuhi standar.

Namun, karena izin operasional masih berlaku hingga Oktober 2025 dan Dedi belum memiliki kewenangan saat itu, aktivitas penambangan tetap berlangsung.

“Saya melihat bahwa galian C ini berbahaya karena kurangnya standar keamanan untuk para pekerja. Namun, karena izinnya masih aktif dan saya belum menjabat, maka kegiatan tambang tetap berjalan,” paparnya.

Dedi juga menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya para penambang tersebut.

“Saya turut berbelasungkawa atas korban jiwa, mereka bekerja keras untuk menghidupi keluarga meski menghadapi risiko besar,” ujarnya.

Penutupan permanen tambang ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Jawa Barat untuk menegakkan keselamatan kerja dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Insiden ini harus menjadi pelajaran bahwa setiap usaha, terutama di sektor pertambangan, wajib mengutamakan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Ke depannya, Pemprov Jawa Barat akan mengevaluasi seluruh aktivitas tambang di wilayahnya, khususnya yang beroperasi di kawasan rawan bencana atau memiliki rekam jejak keselamatan kerja yang buruk. (AHK)