Seluma, Satujuang.com — Penyelenggaraan kegiatan “Semarak Merah Putih” di Kabupaten Seluma menuai kritik tajam setelah panitia memusatkan panggung hiburan di halaman Masjid Agung Baitul Falihin.
Pemilihan lokasi di lingkungan rumah ibadah tersebut dikecam keras oleh tokoh masyarakat sekaligus politikus senior, Tenno Heika, lantaran dinilai tidak etis dan mencederai kesucian tempat suci.
Kritik pedas itu bermula setelah malam penutupan acara diwarnai penampilan penyanyi berbusana rok mini serta aksi sawer-menyawer di atas panggung terbuka tepat di muka masjid.
“Ini sangat tidak layak. Tempat suci dijadikan ajang hiburan, bahkan sampai ada sawer-menyawer seperti di tempat hiburan malam. Ke mana etika para pemimpin? Seharusnya hal seperti ini dipertimbangkan sejak awal,” tegas Tenno, Rabu (14/10/26).
Mantan anggota legislatif selama empat periode ini menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan substansi acara “Semarak Merah Putih” maupun langkah pemerintah dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan dan sektor UMKM.
Ia bahkan mengapresiasi gagasan positif tersebut, namun mengecam keras kebijakan Pemkab Seluma dalam menentukan titik lokasi penyelenggaraan.
“Kalau acaranya, menurut saya, sangat bagus. Pak Helmi berpikir untuk kepentingan masyarakat. Hanya saja, pemilihan tempat oleh pemerintah daerah Kabupaten Seluma yang saya nilai keliru,” ungkap Tenno.
“Logikanya di mana, halaman masjid dijadikan panggung hiburan dengan musik dangdut, penyanyi memakai rok mini, berjoget, dan sawer-saweran,” sambungnya mempertanyakan.
Selain menyoroti panggung hiburan dangdut, Tenno turut mengkritisi keberadaan sejumlah wahana permainan rakyat di area tersebut, termasuk rumah hantu serta stan permainan berhadiah.
Ia mendesak pihak berwenang untuk mengevaluasi secara ketat mekanismenya guna memastikan tidak ada unsur perjudian terselubung.
“Ada rumah hantu dan permainan berhadiah, seperti lempar bola dan tendang bola. Kalau mekanismenya mengarah pada perjudian, tentu harus dievaluasi. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat justru menimbulkan persoalan baru. Apalagi lokasinya berada di depan masjid,” tandasnya.
Tenno mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah program pemerintah tidak boleh hanya diukur dari tingkat kemeriahan massa atau perputaran ekonomi semata.
Aspek kepatutan, norma sosial, nilai agama, serta penghormatan terhadap fasilitas keagamaan wajib menjadi pertimbangan mutlak para pemangku kebijakan.
“Masalahnya bukan pada Semarak Merah Putih, tetapi pada penentuan lokasinya. Masa pejabat daerah tidak mempertimbangkan apakah tempat tersebut sesuai untuk kegiatan seperti ini? Pemerintah harus memperhatikan nilai agama, norma sosial, dan etika di tengah masyarakat,” pungkas Tenno. (Red)












