Kota Bengkulu, Satujuang.com – Standar keamanan tempat hiburan malam bar Black Rock Hotel Mercure di Jalan S Parman, Kota Bengkulu, kini berada di bawah sorotan tajam publik.
Hanya dalam kurun waktu 48 jam, lokasi tersebut menjadi arena dua insiden kekerasan beruntun, memicu pertanyaan besar terkait sistem pengamanan dan pemeriksaan (screening) pengunjung.
Rentetan kejadian ini dimulai pada Selasa (19/5) dini hari, saat seorang mahasiswi asal Kelurahan Singaran Pati, Nurul Hudawasih (25), melapor kepada Polisi sebagai korban pengeroyokan.
Korban mengaku dijambak, dipukul menggunakan benda tumpul, hingga dibanting ke lantai di tengah kerumunan pengunjung sebelum akhirnya dilerai oleh pihak keamanan.
Belum sempat situasi mereda, ruang publik tersebut kembali membara pada Rabu (20/5) dini hari. Kali ini, bentrokan berdarah yang mengakibatkan tiga pria dilaporkan alami sejumlah luka.
Lemahnya pengawasan di pintu masuk dituding menjadi penyebab utama para pelaku dapat dengan mudah meloloskan senjata tajam ke dalam area hiburan.
Pasca-bentrokan berdarah tersebut, kedua belah pihak yang bertikai justru saling klaim sebagai korban.
Mereka melayangkan laporan polisi ke dua markas berbeda; satu kelompok melapor ke Satreskrim Polresta Bengkulu, sementara kelompok lawan melapor ke Mapolsek Ratu Samban.
Kapolresta Bengkulu Kombes Pol Rahmad Hidayat, melalui Kasi Humas IPTU Endang Sudrajat, membenarkan adanya rentetan laporan tersebut dan menegaskan bahwa pihak kepolisian telah bergerak cepat.
“Laporan pengeroyokan di Cafe Black Rock sudah ditindaklanjuti. Personel Reskrim telah menerima laporan dan melakukan olah TKP,” ujar IPTU Endang, Kamis (21/5).
Terkait kasus bentrokan pada hari Rabu, IPTU Endang menambahkan bahwa kedua laporan yang masuk ke Polresta dan Polsek saat ini masih dalam proses penyelidikan intensif.
Polisi kini fokus mendalami dugaan penggunaan sajam serta mengumpulkan bukti guna mengungkap fakta materiil di balik klaim kedua belah pihak.
Dua insiden dalam waktu berdekatan ini seakan membenarkan kabar anak usia sekolah bisa bebas masuk ke tempat hiburan malam tersebut yang memicu inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan oleh Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu beberapa hari sebelum kedua insiden ini terjadi.
Mestinya rentetan kejadian ini menjadi tamparan keras bagi manajemen Black Rock.
Hingga berita ini ditayangkan pewarta sedang mencoba meminta pernyataan tegas dari Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menyikapi. (Red)











