Satujuang, Blitar – Kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026 membawa dampak signifikan bagi Pemerintah Desa (Pemdes) Bacem, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Hal ini seiring dengan adanya penurunan alokasi Dana Desa (DD) secara nasional maupun Alokasi Dana Desa (ADD) dari pemerintah daerah.
Kondisi tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Bacem, Slamet Winarko, saat menghadiri Rapat Koordinasi Daerah Kesiapsiagaan Bencana Kekeringan di Pendopo Sasana Adhi Praja, Kanigoro, Kabupaten Blitar, Rabu (29/4/26).
“Pemdes Bacem tentu menyesuaikan dengan peraturan pemerintah pusat. Segala arahan dari pusat sudah jelas mengenai aturan-aturan penggunaannya,” ujar Slamet kepada awak media.
Lebih lanjut, Slamet menjelaskan bahwa efisiensi ini menyebabkan anggaran untuk berbagai kegiatan di Desa Bacem menurun drastis.
Dampak yang paling menonjol terlihat pada sektor pembangunan fisik dan infrastruktur.
Meski terjadi pemangkasan, Slamet menegaskan bahwa program pelayanan dasar tetap menjadi prioritas utama.
“Kami tetap fokus melaksanakan bidang kesehatan dasar, seperti Posyandu Balita, Posyandu Lansia, dan Posyandu Jiwa, termasuk penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT),” jelasnya.
Efisiensi ini juga berdampak pada tradisi perayaan HUT RI di bulan Agustus mendatang.
Berdasarkan hasil musyawarah desa, kegiatan yang biasanya meriah terpaksa dipangkas demi menjaga stabilitas keuangan desa.
“Jika tahun-tahun sebelumnya kita mengadakan bazar, pawai budaya, hingga jalan sehat, untuk tahun ini hasil musyawarah memutuskan hanya mengadakan malam tirakatan atau tumpengan pada 16 Agustus,” ungkapnya.
Slamet selalu memberikan pemahaman kepada masyarakat di setiap kesempatan agar mereka mengetahui kondisi keuangan daerah dan adanya program-program strategis nasional yang harus diprioritaskan.
Ia pun berharap warga dapat bersabar, terutama terkait pemeliharaan jalan yang belum bisa dilaksanakan secara maksimal oleh desa.
Saat ini, banyak warga yang secara swadaya melakukan perbaikan mandiri.
“Kami sampaikan sejak dini agar masyarakat paham. Jangan sampai nanti di jalan desa yang menjadi kewenangan kami, muncul aksi protes seperti menanam pohon pisang karena kerusakan yang belum diperbaiki. Komunikasi ini penting agar warga tahu bahwa kita sedang dalam masa efisiensi,” pungkasnya. (Herlina)






