Jakarta- Paul Sutter, seorang astrofisikawan di SUNY Stony Brook dan Flatiron Institute, menjelaskan bahwa tabrakan dua lubang hitam adalah salah satu peristiwa paling kuat di alam semesta.
Dimana peristiwa ini melepaskan energi yang lebih besar daripada semua bintang di jagat raya.
Peristiwa ini menghasilkan gelombang gravitasi besar dan menggabungkan dua lubang hitam menjadi satu entitas yang lebih besar.
Prosesnya dimulai saat dua lubang hitam mendekat, yang bisa berasal dari bintang biner atau bertemu secara acak di ruang angkasa.
Mereka harus kehilangan energi orbital agar bisa menyatu. Interaksi dengan gas, debu, atau objek lain di sekitar membantu mereka kehilangan energi ini, memungkinkan kedua lubang hitam bergerak lebih dekat.
Namun, sebelum bertabrakan, mereka menghadapi “masalah parsec terakhir,” di mana mereka berada sekitar satu parsec dari satu sama lain, tetapi tanpa cukup benda di sekitarnya untuk mempercepat penggabungan.
Ketika jarak mereka cukup dekat, gelombang gravitasi mulai berperan lebih besar, menarik kedua lubang hitam hingga mereka bertabrakan dalam hitungan detik.
Saat tabrakan mendekat, batas luar kedua lubang hitam (event horizon) mulai menyatu, membentuk satu lubang hitam besar. Dalam proses ini, sebagian massa hilang dan diubah menjadi energi gelombang gravitasi.
Contohnya, dalam tabrakan yang terdeteksi oleh LIGO pada 2016, lubang hitam baru yang terbentuk memiliki massa lebih kecil dari jumlah kedua lubang hitam awal, kehilangan tiga kali massa matahari dalam bentuk energi.
Meski banyak aspek yang diketahui, apa yang terjadi di dalam lubang hitam baru masih menjadi misteri.
Singularitas, titik pusat lubang hitam dengan densitas tak terbatas, adalah area di mana hukum fisika saat ini belum mampu menjelaskan fenomena yang terjadi.(Red/CNN)






