Semarang – Dalam kurun waktu sebulan, sudah ada 4 kejadian beruntun penyerangan dan pengrusakan yang dilakukan genk bersenjata tajam (sajam) di beberapa titik.
Terbaru pada Kamis (26/1/23) sekitar pukul 16.30 WIB, aksi genk pelajar menggunakan sajam yang melaksanakan penyerangan terjadi di Mugas.
Hingga kini petugas kepolisian sedang melakukan penyelidikan tentang peristiwa itu.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar meminta agar anak muda Kota Semarang tidak mudah terhasut oleh ajakan-ajakan yang menyesatkan.
Memang saat ini diakuinya sudah ada banyak peristiwa yang melibatkan genk anak-anak muda yang melakukan penyerangan dan pengrusakan.
“Kita sebenarnya sudah melakukan pembinaan terhadap generasi muda, rata-rata remaja memang yang melakukan penyerangan dan pengrusakan,” kata Irwan, Kapolrestabes Semarang, Sabtu (28/1/).
Pihaknya menyebut kordinasi dalam pembinaan para pemuda ini sudah dilakukan menggandeng pihak terkait. Sehingga persoalan sosial ini bisa terselesaikan.
Irwan mengaku gencar melakukan operasi dimalam hari maupun persuasive ke sekolah dan lingkungan melalui bhabinkamtibmas secara intens.
“Namun ini memerlukan banyak stakeholder yang terlibat. Seperti dari dinas pendidikan dan melalui rekan-rekan penggiat media sosial juga,” imbuh Irwan.
Fenomena maraknya Genk Bersajam ini jelas sudah mengkhawatirkan masyarakat umum.
Besar harapan warga ada tindakan tegas dari pihak kepolisian memberikan efek jera kepada para pelaku.
“Ini mesti ada efek jera Lebih dari itu juga memberikan warning (peringatan) kepada pemuda lain. Jangan cuman di data saja,” ujar Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adi WIBowo.
Pihaknya menilai fenomena ini bagian dari perubahan prilaku sosial di masyarakat khususnya anak remaja atau pemuda yang ingin menunjukan jatidiri dan eksistensinya.
“Jika terbukti membawa sajam saat beraksi bisa dikenakan UU Darurat. Biar masyarakat juga merasa aman dan nyaman kotanya tidak ada perusuh,” tegas Rahmulyo.
Sementara itu, Sigit Hermawan, warga Pedurungan berharap para pelaku rusuh di Kota Semarang dapat ditindak tegas aparat kepolisian.
Pihaknya kini merasa was-was tatkala peristiwa genk bersajam ini terus berlanjut di Kota Semarang.
“Apalagi saya punya anak yang berusia remaja. Takut menjadi korban salah sasaran. Karena mereka random dalam memilih lawan di jalan,” katanya.
Setidaknya dalam awal tahun 2023 ini ada 4 kasus penyerangan dan pengerusakan yang terjadi di wilayah hukum Polrestabes Semarang.
Pertama kasus di jalan Cinde Raya Kecamatan Candisari, selanjutnya penyerangan di kompleks pasar Dargo, Semarang Timur.
Tidak berhenti disitu, adapula penyerangan di SMK N 5 Semarang dengan satu korban menderita luka bacok.
Terakhir penyerangan yang diduga dilakukan SMK N 3 dan SMK N 4 Semarang. (red/Hdi)











