Satujuang, Bengkulu- Ambisi besar Penanganan Banjir Bengkulu untuk terbebas dari kepungan banjir kini terbentur tembok tebal keterbatasan anggaran nasional.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII mengungkapkan bahwa sejumlah proyek vital, termasuk pembangunan dua kolam retensi raksasa, masih tertunda (hold) hingga saat ini karena soal pendanaan.
Kepala BWS Sumatera VII Bengkulu melalui, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) PJSA BWS Sumatera VII Bengkulu, Dr Hadi Buana ST MPSDA, mengungkapkan bahwa kondisi fiskal negara tahun ini berdampak langsung pada kelanjutan proyek penanganan banjir Bengkulu.
Padahal, pembangunan dua kolam retensi dengan volume 400 ribu kubik tersebut sangat krusial untuk menampung air dari drainase kota sebelum dipompa ke sungai.
“Kondisi fiskal negara tahun ini membuat dana untuk pembangunan dua kolam retensi senilai Rp115 miliar masih di-hold,” ujar Hadi Buana, Kamis (19/2/26).
Kata dia, kebutuhan total untuk menuntaskan masalah banjir dari muara hingga hulu sepanjang 30 km sebagaimana perencanaan mereka mencapai Rp2,8 triliun.
Angka ini mencakup normalisasi sungai, perkuatan tanggul, hingga pembangunan sistem pompa yang terintegrasi.
Kehadiran kolam retensi sangat diperlukan agar upaya Penanganan Banjir Bengkulu benar-benar terasa dampaknya.
“Untuk menggapai itu, posisi tawar Bengkulu di tingkat pusat perlu diperkuat melalui jalur politik,” paparnya.
Menurutnya, minimnya keterwakilan tokoh Bengkulu di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktu turut menjadi salah satu kendala dalam memperjuangkan percepatan anggaran.
“Kita di pusat itu, di Komisi V, kurang. Jadi tidak ada yang mendorong. Sekarang kita perlu keterlibatan para wakil dari Bengkulu agar bisa membantu mendorong supaya rencana besar ini berjalan sesuai jadwal,” tambah Hadi.
Namun meski menghadapi kondisi tersebut, pihak BWSS VII menegaskan mereka tidak akan berhenti melakukan pengajuan anggaran setiap tahunnya agar Penanganan Banjir Bengkulu benar-benar berhasil sesuai yang diharapkan masyarakat.
Ditengah kekhawatiran tanpa dukungan politik yang kuat dari tokoh-tokoh asal Bengkulu di Jakarta, proyek ini berpotensi tidak maksimal dan berjalan lamban.
“Kalau tidak berlanjut, jadinya tidak maksimal dalam mengatasi soal banjir di sini. Tapi kami dari BWS setiap tahun tetap akan mengajukan agar proyek ini bisa berlanjut,” tegasnya.
Penanganan banjir di Bengkulu saat ini memang sedang berpacu dengan waktu.
Proyek Tahap I telah menunjukkan hasil, namun keberlanjutan ke tahap-tahap berikutnya sepenuhnya bergantung pada ketukan palu anggaran di pusat. (Red)







