Terganggu Aktifitas Pabrik Pengolah Kayu, Warga Semarang Mengeluh

Perkiraan Waktu Baca: 5 menit

Semarang – Salah satu pabrik pengolahan kayu yang berada di Jl. Padi Raya dikeluhkan beberapa pihak yang terdampak langsung dari aktivitas pabrik.

Letak pabrik pengolah kayu gelondongan ini berdekatan dengan beberapa fasilitas pendidikan, yaitu SMA 10, SMP 20, TK dan PAUD Kristen serta satu Gereja GKI.

Akibatnya, aktivitas yang dilakukan pabrik ini mengganggu jalannya proses belajar mengajar di sekolah tersebut juga terganggunya gereja saat melakukan ibadah.

Keluhan ini disampaikan Wakil Kepala Sekolah SMA 10 Bidang Sarana dan Prasarana, Subuh Jaelani.

“Adanya getaran saat penurunan kayu gelondongan dari truk trailer melakukan bongkar muat. Selain ada ada debu dan asap yang mengandung partikel tak kasat mata dari cerobong asap pabrik,” ungkap Subuh, Selasa (31/1/23).

Subuh menyebut pernah mengajukan surat keluhan  kepada pihak pabrik terkait asap dan debu yang mengandung partikel mengganggu belajar anak-anak.

“Lantas pihak pabrik waktu itu meninggikan cerobong asapnya, tapi tetap saja asap masuk ke ruang kelas,” jelas Subuh.

Kala itu pihaknya pernah mengkomplain terkait aktivitas pabrik hendaknya setelah kegiatan sekolah usai.

Namun setelah berganti pemilik dikatakan Subuh malah semakin parah, jam ovennya justru malah setiap saat.

“Saat menurunkan log suaranya kayak geluduk, pihak gereja juga komplain karena ada beberapa dinding gereja yang retak, masjid kami juga plafonnya runtuh karena getarannya itu,” beber Subuh.

Subuh berharap, pihak pabrik bisa mendengarkan keluhan para siswa dan warga yang berkegiatan dekat dengan lokasi perusahaan pengolah kayu tersebut.

Ditambahkan Subuh, beberapa bangunan tembok yang sempat mengalami retak-retak pernah dikomplainkan ke perusahaan dan sudah mendapatkan ganti.

Sedangkan keluhan yang dirasakan para siswa, kata Subuh adalah asap debu yang masuk ke kelas.

“Kami juga menghawatirkan dampak kesehatan bagi para siswa kedepannya jika polusi udara itu masih terus terjadi,” cemas Subuh.

Ia berharap pihak pabrik dalam beraktifitas hendaknya di saat jam pelajaran di sekolah selesai sehingga tidak mengganggu belajar siswa.

“Kalau bisa setelah siswa pulang sekolah. Sehingga tidak memberikan dampak kepada para siswa,” harapnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Genuk Indah, David Christianto.

Gereja yang bangunannya bersebelahan dengan pabrik tersebut letaknya persis disamping pabrik.

Sehingga getaran dan debu sangat terasa dan mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah Paud dan TK yang juga berada di lingkungan gereja itu.

“Saya dapat informasi ini dari mas Harmoko Kosternya yang tunggu di sini dan juga dari guru-guru yang pagi,” ujar David.

Sama dengan keluhan Subuh, David mendapat info kalau pas log kayu di pagi hari seringkali anak-anak terganggu dari getaran. lalu terganggu asap juga kalau pas cerobong itu beroperasi.

“Walaupun cerobong asap sekarang sudah tinggi, tetapi kadang-kadang asapnya turun juga di sini cuma memang intensitasnya lebih kurang dari dulu,” terang David.

Pendeta David menceritakan, akibat adanya getaran yang ditimbulkan dari pabrik kayu itu, plafon gereja sampai jatuh, namun semua itu sudah diperbaiki sendiri oleh pihak gereja.

Pendeta David berharap adanya langkah konkret dari perusahaan untuk merespon keluhan dari masyarakat.

Sementara itu, Lurah Gebangsari, Gunarto didampingi Kasi Trantib Rusito mengatakan, selama ia menjabat Lurah belum pernah ada laporan keluhan masuk dari masyarakat.

Namun jika nantinya terjadi permasalahan, pihaknya akan menjembatani kedua belah pihak untuk mencarikan solusi terbaik agar tidak merugikan salah satu pihak.

“Saya di sini baru di Kelurahan Gebangsari, baru per-September kemaren. Dan untuk perkembangan masalah pabrik itu sudah ada penanganan dari temen-temen sebelum saya,” ucap Gunarto.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Kasi Trantib Kelurahan Gebangsari, Rusito.

“Selama saya di sini dari 2021 akhir itu, belum pernah ada aduan dari masyarakat,” akunya.

Menanggapi keluhan dari beberapa pihak tersebut, Direktur Operasional pabrik  PT EMP, Rokhim didampingi HRD, Yakub mencoba mengklarifikasi.

Saat dikonfirmasi awak media di kantornya, Rokhim menyampaikan bahwa selama ini tidak ada masalah yang terjadi di lingkungan perusahaannya.

“Kalaupun ada itu tahun lalu dan sudah ditangani,” kata Rokhim kepada awak media di kantornya, Selasa (31/1).

Rokhim mengaku secara langsung juga bertanya ke RT-RT sekitar, mereka tidak menyampaikan kalau ada keluhan.

“Saya tahu ada satu orang saja yang seringkali mengeluh, tapi keluhannya kok sama dengan keluhan yang dulu,” katanya.

Waktu itu, lanjut Rokhim, pihaknya melakukan pertemuan di kelurahan yang membuahkan solusi titik temu dengan melakukan perbaikan dan perubahan.

“Sudah ada sebuah kemajuan kalau saya melihatnya, lha tapi kemudian kok persoalannya kembali ke dua tahun lagi, mundur lagi padahal kita sudah melakukan perbaikan,” kata Yakub ikut menimpali.

“Kami sudah handel dan bekerja sama dengan LPMK, saya juga komunikasi dengan pak Lurah. Jadi semua hal itu sebetulnyakan ada ketidakpuasan satu dua orang mungkin iya, tapi secara rata-rata kami mencoba mencari akan informasi-informasi,” lanjut Yakub.

Masih Yakub, Dinas kesehatan juga melaporkan, setelah dicek ternyata tidak ada warga di RT dan RW sekitar yang mengalami sakit gangguan pernafasan.

“Berarti tidak ada gangguan sakit pernafasan itu, mungkin secara gangguan atau istilahnya ketergangguan yang lain mungkin iya, tapi secara sakit kan tidak ada,” tambah Yakub.

Terkait kebisingan yang dikeluhkan warga, Yakub menampik semua itu.

Bahkan, ia juga mempersilahkan masyarakat mengecek, apakah suara mesin itu mengganggu.

“Jarak sekian aja kita gak ada bunyi. Lha itu kan kita cek, kemudian yang lapor itu jarak berapa meter. Kita pun sudah mengkomunikasikan dengan pihak sekolah. Kita bekerjasama dengan pihak sekolahan. Kita juga membuat semacam agreement deal-deal, oke jam sekian sampai jam sekian kami tidak akan operasikan mesin yang seperti ini. Kami akan ganti mesin yang lebih tidak menimbulkan suara, itu sudah ada dan kami sudah bersepakat,” kata Yakub.

Mewakili perusahaan, Yakub membuka diri dan meminta kepada warga atau pihak-pihak yang masih mengeluh supaya bisa menyampaikan masukan kepadanya agar dicarikan titik temu.

“Kita tidak tinggal diam, terus kemudian dari anak-anak siswa sini kita bantu, kita sumbang. Kita juga adakan vaksinasi massal melibatkan sekolah-sekolah, jadi kerjasama-kerjasama kita meningkat. Mungkin jika beberapa dirasa kurang ya kami kasih masukan, masukan akan kita tampung, kita akan buat semacam istilahnya titik temu, oh kegiatan yang paling enak paling pas itu apa,” pungkasnya. (red/hdi).