Spanduk ‘Biaya Sendiri’ Warnai Prosesi Tabut Tebuang, Tabut 2025 Penuh Ketegangan

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bengkulu- Tabut 2025, ketegangan antara Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bencoolen dan Pemerintah Provinsi Bengkulu kian nyata dalam puncak prosesi Tabut Tebuang, Minggu (6/7/25).

Di tengah arak-arakan 13 Tabut sakral menuju Padang Karabela, Kelurahan Padang Jati, spanduk bertuliskan “Biaya Sendiri” dibentangkan, menarik perhatian masyarakat yang memadati jalur prosesi dari kawasan Kampung Cina.

Spanduk ini menepis tuduhan negatif bahwa ketegangan terjadi karena soal anggaran dari pemerintah, spanduk ini menegaskan bahwa tanpa dana dari pemerintah Kebudayaan Tabut milik mereka tetap bisa dilaksanakan.

Sekaligus menegaskan bahwa kelompok tabut sakral tidak menerima dukungan penuh dari pemerintah dalam pelaksanaan tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu.

Meski hujan badai mengguyur, para pegiat budaya tetap melanjutkan prosesi hingga ke tempat pembuangan tabut di makam Karabela.

Perseteruan KKT Bencoolen dengan Pemprov Bengkulu mencuat sejak awal Festival Tabut 2025.

Titik panasnya adalah pemindahan sentra acara dari Lapangan Merdeka/View Tower ke Sport Center Pantai Panjang, serta pengalokasian anggaran hanya Rp90 juta untuk 17 Tabut sakral.

KKT Bencoolen menilai kebijakan itu sebagai bentuk pengabaian terhadap warisan budaya asli.

Kekecewaan ditunjukkan pada malam 1 Muharram 1447 H (27 Juni 2025), saat dol ditabuh di Tugu Dol Kampung Cina, menggantikan prosesi pamit dengan Raja Agung yang biasa dilakukan sejak tahun 1990-an.

Gubernur Bengkulu selaku tokoh simbolik dalam prosesi tersebut secara terang-terangan ditinggalkan.

Sebagaimana diketahui, tahun ini kembali terjadi dua panggung perayaan Tabut. Pemerintah Provinsi Bengkulu menggelar Festival Tabut 2025 di Sport Center Pantai Panjang dengan panggung hiburan, bazar UMKM, lomba, hingga penampilan band.

Kegiatan ini diikuti oleh Kerukunan Keluarga Tabut Budaya (KETAB) dan komunitas budaya lainnya.

Sementara itu, di sisi lain, KKT Bencoolen menggelar prosesi Tabut secara mandiri di Kampung Cina, menjaga kemurnian tradisi yang telah dijalankan secara turun-temurun sejak masa kedatangan para leluhur mereka di Bengkulu.

KKT adalah pihak yang sejak awal memperkenalkan dan menjaga ritual sakral Tabut, jauh sebelum dikomersialkan atau dijadikan festival hiburan.

Jejak pelibatan pemerintah dalam prosesi Tabut sendiri baru terjadi sejak akhir 1980-an. Tahun 1989, prosesi pamit dengan raja agung pertama kali dikenalkan, dan sejak 1990-an digelar secara besar-besaran bersama pemerintah daerah.

Bahkan pada 2024, Festival Tabut di Lapangan Merdeka sempat dikunjungi perwakilan Kementerian dan delegasi Iran.

Namun kondisi 2025 justru mencerminkan keterbelahan. Banyak pihak menyesalkan situasi ini dan khawatir nilai-nilai budaya Tabut yang sakral akan terkikis atau bahkan menghilang kemudian hari. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *