Soekarno, Peci, dan Identitas Bangsa

Soekarno sewot, kawan-kawannya yang tak mau pakai penutup kepala dianggapnya banyak lagak dan kebarat-kebaratan.

Bagi Soekarno, penutup kepala adalah identitas. Ia telah lama berpikir menjadikan peci sebagai pilihan.

Tak ada waktu lagi, sebelum melanjutkan studi ke Bandung, ia harus berbicara dalam rapat Jong Java.

Namun, Soekarno sedikit tegang. Langkahnya maju mundur. Di luar gedung rapat, ia malah bersembunyi di balik tukang sate.

Dengan sinis, di tempat remang-remang penjual sate, ia pandangi kawan-kawannya yang kepalanya dibiarkan terbuka.

Hatinya yang panas membunuh keraguan.

Soekarno pun menuju ruang rapat, kawan-kawannya ternganga.

Mungkin juga sinis melihat Soekarno berlagak dengan peci di kepala.

“Demi tercapainya cita-cita kita, para pemimpin politik tidak boleh lupa bahwa mereka berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat,” Soekarno tiba-tiba bersuara.

Ia menguasai panggung.

“Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia,” lanjut Soekarno.

“Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Tapi, istilahnya berasal dari penjajah kita,” ujar Soekarno.

Soekarno berkata, “Dalam bahasa Belanda ‘pet’ berarti kupiah, ‘je’ akhiran untuk menunjukkan ‘kecil’, dan kata itu sebenarnya ‘petje’. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Sejak saat itu, menurut Soekarno, peci memengaruhi para pejuang kemerdekaan. Di mana-mana, peci selalu dikenakan.

Peci telah menjadi identitas kebangsaan. Sampai Indonesia merdeka, Soekarno hanya melepas peci di depan istri.

Ketika kepalanya semakin botak, ia berseloroh bahwa peci sebagai alat untuk menutup kepalanya. (Hendaria Sugiarto)

Artikel ini diambil dari naskah buku Dari Krakatau Sampai Akhir hidup Sukarno

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *