Puluhan Siswa Keracunan MBG di Bandung, Gejala Pusing hingga Muntah

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bandung – Puluhan siswa SMP Negeri 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi paket makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dilansir dari media Antara, Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (14/10/25), menu paket MBG dibagikan sekitar pukul 09.30 WIB dan gejala muncul sekitar pukul 12.00 WIB.

Kepala SMPN 1 Cisarua, Agus Solihin, mengatakan pihak sekolah segera menyiapkan ruang-ruang darurat untuk penanganan awal.

“Kami menempatkan korban di aula, laboratorium komputer, dan beberapa kelas untuk observasi dan pertolongan pertama,” ujarnya.

Agus memperkirakan jumlah siswa yang terdampak mencapai sekitar 54 orang.

Menurut Agus, gejala yang dialami beragam: mayoritas mual, muntah, dan pusing; beberapa kasus menunjukkan sesak napas, termasuk pasien dengan riwayat asma yang memerlukan perhatian lebih.

“Untuk yang bergejala lebih berat sudah dirujuk ke Klinik Dokter Ellen oleh tim MBG-guru,” tambahnya.

Sekolah mencatat total 1.300 paket MBG diterima, dan sekitar 1.250 paket telah dibagikan serta dikonsumsi oleh siswa.

Paket yang tersisa tidak dibagikan karena beberapa siswa berhalangan hadir.

Sejumlah siswa menyatakan mencium bau tidak sedap ketika membuka bungkus; dari keterangan tersebut, dikeluhkan bahwa daging ayam pada paket diduga sudah tidak layak konsumsi.

Menanggapi insiden, Badan Gizi Nasional (BGN) akan mengambil langkah cepat dengan menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terkait untuk keperluan penyelidikan dan pengujian laboratorium selama minimal 14 hari.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, memastikan bahwa Badan Gizi Nasional akan menanggung biaya perawatan korban, kecuali apabila ada status Epidemi/KLB yang ditetapkan pemerintah daerah.

“Jika tidak ada status lain dari Pemda, biaya ditanggung BGN. Ketentuan ini berlaku nasional,” jelas Dadan.

Orang tua siswa sempat panik, namun pihak sekolah menyatakan telah memberikan penanganan maksimal dan terus berkoordinasi dengan pihak kesehatan serta BGN untuk menuntaskan investigasi dan memastikan keselamatan siswa. (AHK)