Jakarta- Para ilmuwan mengonfirmasi tahun 2024 sebagai tahun pertama dalam sejarah ketika suhu global rata-rata melampaui 1,5 derajat Celsius di atas masa pra-industri.
Catatan penting ini diumumkan oleh Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) Uni Eropa, menegaskan bahwa perubahan iklim telah mendorong suhu planet ke tingkat yang belum pernah dialami manusia.
“Lintasannya sungguh luar biasa,” ujar Direktur C3S Carlo Buontempo, mengacu pada fakta bahwa setiap bulan pada 2024 mencatatkan suhu terpanas atau kedua terpanas sejak pencatatan dimulai.
Suhu rata-rata global tahun ini mencapai 1,6 derajat Celsius di atas periode 1850–1900, masa pra-industri ketika pembakaran bahan bakar fosil belum masif.
Tahun 2024 juga menjadi tahun terpanas dalam sejarah pencatatan, melanjutkan tren bahwa 10 tahun terakhir adalah periode terpanas yang pernah terjadi.
Dampak perubahan iklim kini terasa di seluruh dunia: kebakaran hutan mematikan terjadi di California, Bolivia, dan Venezuela; banjir besar melanda Nepal, Sudan, dan Spanyol; serta gelombang panas ekstrem di Meksiko dan Arab Saudi menewaskan ribuan orang.
Atmosfer yang semakin panas akibat emisi karbon dioksida memicu hujan deras dan badai yang semakin intens.
Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer mencapai rekor 422 ppm pada 2024, sementara tingkat uap air di atmosfer juga memecahkan rekor.
Pola cuaca El Nino di awal tahun turut memperburuk situasi sebelum beralih ke La Nina yang lebih dingin.
Chukwumerije Okereke, profesor tata kelola iklim global dari Universitas Bristol, menyerukan tindakan tegas.
“Tonggak sejarah 1,5 derajat Celsius ini harus menjadi peringatan keras bagi para pemangku kebijakan. Terlepas dari peringatan para ilmuwan, negara-negara terus gagal memenuhi tanggung jawab mereka,” katanya.
Meski 2024 memecahkan rekor, ilmuwan Zeke Hausfather dari Berkeley Earth memprediksi bahwa 2025 akan tetap menjadi salah satu tahun terpanas dalam sejarah, meskipun mungkin tidak menempati peringkat pertama.
Dengan dampak yang semakin nyata di setiap benua, dunia kini dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk bertindak melawan perubahan iklim.(Red/detik)
