Jeritan Warga: Pulihkan Pondok Kelapa, Ratusan KK Terancam Kehilangan Rumah dan Mata Pencarian

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bengkulu Tengah- Puluhan aktivis mendesak pemerintah untuk Pulihkan Pondok Kelapa karena ratusan keluarga terancam kehilangan rumah dan mata pencarian akibat abrasi parah, Senin (26/1/26).

Aksi pembentangan spanduk besar bertuliskan “Pulihkan Pondok Kelapa, Bengkulu, Menolak Tenggelam” dilakukan di jembatan pertemuan muara Sungai Lemau dengan laut. Lokasinya berada di Desa Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah.

“Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan atas belum adanya tindakan nyata negara terhadap parahnya abrasi di Desa Pondok Kelapa dan Bengkulu secara keseluruhan,” jelas Dodi Faisal, Walhi Bengkulu.

Desa Pondok Kelapa terancam tenggelam dalam 20 hingga 30 tahun ke depan akibat abrasi dan kenaikan permukaan laut sebagai dampak krisis iklim, tambahnya.

Ratusan Kepala Keluarga (KK) terancam kehilangan tempat tinggal dan lahan pertanian. Selain itu, fasilitas publik seperti sekolah dan masjid juga akan tergerus jika tidak ada tindakan negara atas kondisi kritis di Desa Pondok Kelapa.

Walhi Bengkulu mendesak pemerintah kabupaten untuk melibatkan masyarakat terdampak dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2025–2030 yang sedang berlangsung.

Revisi RTRW Bengkulu Tengah berbasis perubahan iklim sesuai Juknis 5/2024 dari Kementerian ATR/BPN sangat penting diterapkan.

Hal ini bertujuan mengurangi risiko bencana akibat cuaca ekstrem, seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan muka air laut, agar wilayah terdampak, khususnya pesisir, menjadi prioritas pembangunan berkeadilan.

Walhi juga mengkritisi abrasi masif yang melanda 525 kilometer kawasan pesisir Bengkulu, membentang dari Kabupaten Kaur hingga Mukomuko.

“Banyak fasilitas umum, rumah penduduk, dan tempat sandar perahu nelayan hancur dilanda abrasi,” beber Dodi. “Akibatnya, nelayan kehilangan pekerjaan serta mengalami turunan dampak sosial ekonomi lainnya.”

“Puluhan hektar kebun kelapa milik masyarakat musnah ditelan laut akibat abrasi yang melanda,” kata Raniah, warga Desa Pondok Kelapa.

“Dahulu di tengah laut itu kebun kelapa kami, sekarang tenggelam disapu laut menghilangkan sumber kehidupan kami,” tutup Raniah. (Red/Frm)