Satujuang- BMKG memprediksi bulan Juni akan menjadi awal kemarau panjang di Indonesia tanpa adanya fenomena El Nino seperti tahun-tahun sebelumnya.
Analisis menunjukkan bahwa kondisi kering telah mulai memasuki wilayah Indonesia bagian selatan.
Prediksi BMKG menyatakan sekitar 23,89 persen dari 167 Zona Musim (ZOM) akan memasuki musim kemarau pada bulan ini.
Awal musim kemarau ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan kurang dari 50 milimeter dalam satu dasarian, diikuti oleh dua dasarian berikutnya.
Indeks NINO 3.4, zona utama pemantauan El Nino, menunjukkan nilai +0,28 yang tidak signifikan terhadap peningkatan hujan di Indonesia (Netral).
Dwikorita menyatakan bahwa tidak akan ada El Nino pada musim kemarau kali ini. Meskipun demikian, sejumlah wilayah di Indonesia, terutama bagian selatan garis ekuator, diprediksi akan mengalami curah hujan lebih rendah dari normalnya.
Hilangnya El Nino meningkatkan potensi kehadiran La Nina, yang membuat musim kemarau kali ini berpotensi basah.
Meskipun tren ke arah La Nina terlihat, belum ada kesimpulan pasti. El Nino dan La Nina merupakan bagian dari El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang melibatkan perubahan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur.(Red/CNN)











