Jelang Pemilu, Ketua LPCR PP Muhammadiyah Larang Aktivisnya Bawa-bawa Partai

Jakarta– Ketua LPCR PP Muhammadiyah, Jamaluddin Ahmad menyampaikan, dahulu banyak aktivis lumpuh akibat lebih suka berpolitik dan di bawah ke rapat-rapat.

Itu disampaikan Ahmad mengenai faktor lahirnya Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR).

Oleh karena itu menjelang Pemilu 2024, Jamaluddin Ahmad berpesan supaya kejadian tersebut tidak terulang kembali.

Perbedaan pandangan dan keterlibatan aktivis Muhammadiyah dalam partai politik harus disikapi dengan bijaksana, tidak boleh dicampur adukan dibawa ke ruang-ruang rapat Muhammadiyah.

“Muhammadiyah seperti yang dikatakan, menjadi payung dari tenda besar terutama bagi warganya sendiri,” ujar Ahmad.

Dijelaskan Ahmad, begitu rapat disatukan, jangan sampai ke masjid membawa-bawa partai.

Tapi masjid menyatukan kita, mendinginkan kita agar kita tetap menjadi umat yang menjunjung tinggi persaudaraan.

Demikian disampaikan oleh Jamaluddin Ahmad, Ketua LPCR PP Muhammadiyah pada, Ahad malam (11/6) dalam Pengajian Umum Pengukuhan Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PDMA) Kabupaten Kudus di Crystal Building, Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU).

Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah dalam konteks politik praktis sebagai organisasi yang majemuk, maka Jamal berpesan supaya pimpinan jangan hanya bertemu ketika menjalankan rapat-rapat.

Tapi untuk menyatukan dan memperkuat komitmen, pimpinan harus sering bertemu selain di ruang-ruang rapat.

Pada kesempatan ini, dirinya juga menyampaikan supaya para aktivis Persyarikatan Muhammadiyah untuk mengemban amanah dengan bergembira.

Datang ke rapat, berjamaah di masjid, menghadiri pengajian Muhammadiyah, pulangnya tidak boleh marah-marah. Pulangnya harus membawa kegembiraan, khususnya bagi keluarga.

Kegembiraan yang disampaikan kepada anak-anak, menurut Jamal merupakan salah satu cara pengkaderan yang efektif.

Melihat realitas sekarang, di mana banyak tokoh Muhammadiyah yang anaknya enggan bahkan anti dengan Muhammadiyah, bisa jadi karena orang tuanya sepulang dari aktivitas di Muhammadiyah tidak menampilkan kegembiraan.

“Kita berislam, berdakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu biar bahagia dunia dan akhirat. Selanjutnya bapak-bapak mari kita tunaikan tugas itu dengan senang hati, ringan hati,” pungkasnya.(muhamadiyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *