Polda Bengkulu Bersama BKSDA Investigasi Kematian Gajah di Mukomuko

Perkiraan Waktu Baca: 3 menit

Satujuang, Mukomuko – Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bergerak cepat melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap tabir kematian misterius induk dan anak gajah di Kabupaten Mukomuko.

Dua ekor mamalia besar tersebut ditemukan tak bernyawa di kawasan Hutan Produksi (HP) Air Teramang, tepatnya di dalam area konsesi milik PT Bentara Agra Timber (BAT).

Penemuan ini langsung memicu perhatian serius dari pucuk pimpinan kepolisian di Bengkulu.

Kapolda Bengkulu, Irjen Pol Mardiyono, segera menginstruksikan jajaran detasemen khusus untuk turun ke lapangan sesaat setelah menerima laporan dari masyarakat pada Kamis (30/4).

Tim gabungan lintas instansi pun langsung dibentuk guna melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang komprehensif.

Kasubdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Bengkulu, Kompol Mirza Gunawan, memimpin langsung serangkaian langkah investigasi di lokasi kejadian.

Ia didampingi oleh jajaran Polres Mukomuko, Polsek Sungai Rumbai, dokter hewan, serta perwakilan dari Dinas Kehutanan.

“Kami beserta Polres Mukomuko dan Polsek Sungai Rumbai telah melakukan olah TKP, yang juga didampingi oleh dokter dan pihak BKSDA serta dinas terkait,” ujar Kompol Mirza usai melakukan investigasi terpadu pada Jumat (1/5/26).

Upaya kolaboratif ini bertujuan untuk memastikan apakah kematian satwa yang dilindungi tersebut murni disebabkan oleh faktor alam atau terdapat unsur kelalaian manusia hingga tindakan kriminal.

Fokus utama tim adalah mengumpulkan bukti-bukti fisik di sekitar bangkai gajah.

Dalam proses identifikasi, tim medis hewan telah melakukan tindakan nekropsi atau pembedahan bangkai secara sistematis terhadap kedua gajah tersebut.

Proses ini dilakukan dengan ketelitian tinggi untuk melihat kondisi organ dalam satwa malang itu.

“Petugas telah mengambil beberapa sampel dari tubuh gajah untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium,” tambah Mirza.

Sampel-sampel tersebut menjadi kunci utama dalam memecahkan teka-teki penyebab kematian yang sebenarnya.

Meskipun sampel telah diambil, pihak kepolisian menegaskan bahwa hingga saat ini hasil pasti belum dapat disimpulkan.

Semua pihak diminta untuk menunggu hasil uji laboratorium yang akan memberikan kepastian secara medis dan ilmiah.

“Untuk hasil penyelidikan, kami belum bisa menyampaikan lebih lanjut karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Ada beberapa sampel yang dibawa oleh dokter untuk diuji,” beber Mirza menjelaskan prosedur yang sedang berjalan.

Berdasarkan pemeriksaan fisik awal di lapangan, tim investigasi melaporkan bahwa mereka belum menemukan adanya indikasi kekerasan fisik pada tubuh induk maupun anak gajah tersebut.

Tidak ditemukan luka terbuka atau jejak serangan yang kasat mata.

“Untuk sementara belum ditemukan tanda-tanda kekerasan, namun ini masih bersifat sementara karena kita harus memastikan hasil laboratorium,” tegas Mirza mengulangi penjelasan dari tim medis hewan di lokasi.

Penyelidikan ini terus berjalan seiring dengan upaya pelestarian satwa liar yang semakin menantang di kawasan hutan produksi.

Hasil laboratorium nantinya akan menjadi dasar pijakan bagi kepolisian untuk menentukan langkah hukum selanjutnya dalam kasus kematian gajah di konsesi PT BAT ini. (Red)