Plus Minus PLTU Menggunakan Batu Bara GAR rendah

Perkiraan Waktu Baca: 4 menit

Satujuang- Batu Bara adalah akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mati dan tidak sempat mengalami pembusukan secara sempurna, yang kemudian terpreservasi dengan baik dalam kondisi bebas oksigen misalnya pada bagian bawah dari suatu danau atau pada endapan/sedimen berbutir sangat halus.

Mengalami proses yang panjang, kini batu bara menjadi bahan bakar yang banyak dipergunakan mulai dari skala kecil (Rumah Tangga) hingga Industri.

Namun, kekayaan alam itupun harus dikelola terlebih dahulu agar memiliki nilai ekonomis tinggi.

Dikutip dari website kementrian ESDM, ada beberapa plus minus penggunaan Batu Bara ber GAR (Kalori) rendah bagi industri skala besar.

Kerugian Menggunakan Batu Bara GAR Rendah

Dengan mengganti batu bara menjadi kalori yang lebih rendah memang akan menaikkan jumlah konsumsi batubara, namun karena harganya lebih murah, maka masih didapat penghematan secara finansial (Mills, 2011).

Penggunaan kualitas batu bara yang lebih rendah dari desain boiler tentunya akan menimbulkan potensi gangguan dalam operasional pembangkit sebagai berikut:

  1. Masalah Penanganan dan penyimpanan batu bara dapat berubah,
  2. Batubara jenis lignit dapat memiliki masalah debu dan pembakaran spontan,
  3. Lebih banyak batu bara harus dikelola jika nilai kalori batu bara baru lebih rendah,
  4. Aliran batu bara dapat dipengaruhi oleh fineness, atau moisture, atau bahkan kandungan tanah liat,
  5. Kecepatan coal feeder dapat berubah tergantung pada kalori batu bara dan efisiensi boiler,
  6. Efisiensi Boiler dan NPHR dapat dipengaruhi oleh perubahan kualitas batu bara dan operasional,
  7. Kapasitas pulverizer dapat berubah. Perlu diperhatikan bahwa aliran batu bara yang lebih tinggi cenderung meningkatkan ukuran partikel yang berdampak pada pembakaran, unburnt carbon, Nox, slagging, fouling, dan peningkatan Furnace Exit Gas Temperature (FEGT),
  8. Risiko pembentukan slagging dan fouling dapat meningkat, sehingga memerlukan pengoperasian soot blower lebih sering,
  9. Karena jumlah abu yang terbentuk lebih banyak, maka memerlukan tempat penampungan abu yang lebih besar (Tanetsakunvatana & Kuprianov, 2007).

Keuntungan Menggunakan Batu Bara GAR Rendah

  1. Menghemat Biaya Oprasional atau biaya pembelian batubara,
  2. Ketersedian batu bara yang melimpah.

Untuk pengelohan Batu Bara berkalori rendah, tentunya membutuhkan alat pengelohan yang mumpuni serta melalui tahapan Coal Swetching.

Coal switching adalah sebuah program merubah nilai kalori batu bara yang digunakan untuk proses pembakaran boiler pada PLTU dari nilai desain boiler menjadi nilai kalori yang lebih rendah.

Sebagai salah satu upaya untuk memanfaatkan batu bara nilai kalori rendah yang mempunyai harga energi yang relatif lebih murah, maka dapat dilakukan alternatif pemanfaatan batu bara tersebut dengan metode coal blending, coal switching, ataupun coal drying pada PLTU.

Coal blending merupakan cara terbaik untuk mengatasi masalah ketersediaan batu bara dan ketergantungan terhadap satu sumber pemasok batu bara untuk PLTU di Indonesia.

Dengan mengganti batu bara menjadi kalori yang lebih rendah memang akan menaikkan jumlah konsumsi batu bara dan menurunkan efisiensi pembangkit, namun karena harganya lebih murah, maka masih didapat penghematan secara finansial.

Coal drying dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperbaiki kualitas batu bara yang mempunyai kandungan moisture tinggi, sehingga batu bara tersebut dapat digunakan untuk bahan bakar PLTU eksisting.

Hal yang perlu diperhatikan adalah evaluasi dari kinerja boiler setelah
mengganti kualitas batu bara yang lebih rendah, sejumlah uji bakar perlu dilakukan untuk mengetahui hasil pembakaran setiap batu bara dengan karakteristik yang berbeda.

Namun, sayangnya tidak semua PLN yang telah memiliki peralatan pengolahan Batu Bara berkalori rendah.

Alhasil, pencampuran GAR rendah dan tinggi kerap dilakukan yang akhirnya merusak kinerja mesin pengolahan.

Teranyar, persoalan GAR rendah yang diduga dimanipulatif inipun menguak ke publik setelah PTSDS di Kota Dumai melaporkan Dua oknum PT Surveyor Indonesia kepenegak hukum.

Kedua orang itu yakni ARM, Kepala Laboraterium serta AC, Kepala wilayah PTSI Kepulauan Riau, telah menjadi tersangka atas dugaan manipulasi COA (Sertificate of analysis) yang disuplay oleh PTTRS.

Mirisnya, pihak penyuplay Batu Bara (PTTRS) yang diduga bekerjasama dengan kedua oknum SI tersebut tidak ditetapkan tersangka oleh pihak Ditreskrimum Polda Riau.

Pelapor (PTSDS) merasa dirugikan karena rusaknya mesin Boiler pembangkit listrik yang diakibatkan GAR Batu Bara yang rendah. (Esp)